Produksi Freeport Turun Hingga 50 Persen pada 2025

2 weeks ago 15

Bijih tambang yang dibawa dari tambang Grasberg menggunakan truk lalu dikirim ke pabrik pengolahan untuk dihancurkan menjadi pasir yang sangat halus.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kinerja produksi PT Freeport Indonesia (PTFI) mengalami penurunan tajam sepanjang 2025, dengan volume produksi mineral utama anjlok hingga mendekati 50 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini terjadi di tengah berbagai tantangan operasional yang memengaruhi aktivitas tambang bawah tanah.

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, produksi tembaga tercatat sebesar 1,01 miliar pound pada 2025, turun signifikan dari 1,79 miliar pound pada 2024. Produksi emas juga merosot menjadi 937 ribu ounce dari sebelumnya 1,86 juta ounce, sedangkan produksi perak turun menjadi 4,42 juta ounce dari 7,07 juta ounce pada periode yang sama.

Penurunan paling tajam terjadi pada komoditas emas yang turun hampir 50 persen, disusul tembaga dan perak yang juga mengalami kontraksi signifikan. Secara keseluruhan, capaian ini mencerminkan tekanan terhadap produktivitas tambang, terutama pada blok Grasberg yang selama ini menjadi tulang punggung produksi Freeport.

Kondisi ini tidak lepas dari gangguan operasional yang terjadi sepanjang tahun, termasuk insiden di area tambang bawah tanah yang sempat menghentikan sebagian aktivitas produksi. Selain itu, proses transisi dan pengembangan tambang bawah tanah juga menyebabkan penyesuaian volume produksi, seiring perubahan metode penambangan dari tambang terbuka ke bawah tanah yang secara alami membutuhkan waktu untuk mencapai kapasitas optimal.

Dampak dari penurunan produksi juga merambat ke sektor hilir. Keterbatasan pasokan konsentrat membuat operasi smelter dan fasilitas pemurnian logam mulia atau Precious Metals Refinery (PMR) tidak berjalan optimal sepanjang 2025. Padahal, kedua fasilitas tersebut merupakan bagian penting dari strategi hilirisasi mineral yang tengah didorong pemerintah.

Meski menghadapi tekanan, Freeport tetap melanjutkan upaya pemulihan secara bertahap. Perusahaan mulai melakukan restart operasi di beberapa area tambang yang tidak terdampak, serta menyiapkan peningkatan produksi dari tambang bawah tanah dalam beberapa tahun ke depan. Dengan selesainya pembangunan fasilitas hilirisasi, Freeport juga diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah produk mineral di dalam negeri.

Ke depan, kinerja produksi Freeport akan sangat ditentukan oleh keberhasilan stabilisasi operasi tambang bawah tanah serta percepatan ramp-up produksi di area utama seperti Grasberg Block Cave. Jika proses ini berjalan sesuai rencana, produksi diperkirakan akan kembali meningkat dan menopang kinerja keuangan perusahaan secara keseluruhan.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research