Umat Islam melaksanakan shalat tarawih terakhir bulan Ramadhan 1446 H yang bertepatan dengan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1947 di Masjid Agung Asasuttaqwa, Desa Adat Tuban, Badung, Bali, Sabtu (29/3/2025). Pelaksanaan shalat tarawih di masjid tersebut dilakukan dengan penerangan terbatas dan tidak menggunakan pengeras suara serta hanya diikuti oleh warga yang tinggal dekat dengan masjid guna menghormati umat Hindu yang sedang menjalani catur brata penyepian.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Umat Islam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1447 Hijriyah/ 2026 dengan memperbanyak ibadah, baik pada siang maupun malam hari. Pada malam hari, kaum Muslimin biasanya menunaikan sholat tarawih secara berjamaah setelah sholat Isya.
Usai melaksanakan sholat tarawih, baik berjamaah maupun sendiri, ibadah biasanya dilanjutkan dengan sholat witir. Sholat witir berstatus sunah, namun termasuk sunah yang sangat dianjurkan dan memiliki keutamaan besar.
Dalam hadits dinyatakan:
يَا أَمَلَ الْقُرْآنِ أَوْتِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الوِتْرَ .
YAA AMALAL QUR-AANI AUTIRUU FA-INNAL LAАНА YUHIBBUL WITRA.
"Hai para ahli Alquran, kerjakanlah sholat witir, sebab Tuhan itu Tunggal (Esa). Dia suka kepada bilangan witir (ganjil)."
Waktu mengerjakan sholat witir sesudah sholat Isya sampai terbit fajar. Biasanya sholat witir itu dirangkaikan dengan sholat tarawih. Bilangan rakaatnya, 1 rakaat atau 3 rakaat, bisa juga 5, 7, 9 atau 11 rakaat.
Sholat witir itu boleh dikerjakan dua rakaat satu salam, kemudian ditambah satu rakaat dengan satu salam.
Jumlah 11 rakaat itu telah cukup, dan inilah yang dikerjakan oleh Nabi Muhammad SAW sebagaimana dinyatakan oleh Aisyah Radhiyallahu anha."Tidaklah pernah Nabi Muhammad SAW melebihi sholat malam (witir) melebihi dari 11 rakaat."

1 week ago
8











































