Naik Haji, Guru Honorer Malang Sisihkan Gaji Kecil di Kaleng Biskuit

2 hours ago 1

Surabaya, CNN Indonesia --

Keterbatasan ekonomi bukanlah halangan bagi Abdul Malik Syaiful (49). Guru honorer asal Desa Pringgondani, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang ini berangkat haji tahun 1447 Hijriah /2026.

Malik membuktikan niat berhaji yang dipupuk selama puluhan tahun akhirnya berbuah manis. Hal ini juga bukti panggilan Allah tidak mengenal status jabatan maupun besaran pendapatan.

Perjalanan panjang Malik dimulai sejak ia resmi meminang istrinya, Mudrika (49), pada 2001 silam. Saat itu, mereka sudah bertekad untuk bisa menunaikan ibadah haji bersama.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai guru honorer di pelosok, Malik harus memutar otak karena upahnya saat itu hanya sebesar Rp25 ribu per bulan. Bersama sang istri, ia mulai menyisihkan uang receh demi receh.

"Latar belakang kami adalah seorang guru honorer di SD Negeri 2 Pringgondani yang ada di pelosok. Mulai tahun 2001 dengan gaji pada waktu itu Rp25 ribu. Kami terus punya keinginan tekad dengan istri saya untuk bisa menjadi tamunya Allah," kata Malik saat ditemui di Asramaha Haji Embarkasi Surabaya, Minggu (26/4).

Malik dan Mudrika memanfaatkan kaleng biskuit bekas sebagai celengan untuk menyimpan sisa pendapatan mereka. Receh demi receh mereka masukkan ke wadah itu.

Hingga akhirnya, perjuangan panjang selama 11 tahun menyisihkan uang ke dalam kaleng biskuit menemui titik terang. Malik dan istri memutuskan untuk membukanya. Tabungan mereka pun cukup buat mendaftarkan porsi haji bagi keduanya pada November 2012.

"Alhamdulillah dengan menabung seadanya dari jerih payah kami akhirnya di tahun 2012 kami bisa mendaftar dua orang," ucap dia.

Namun, perjuangan tak berhenti di situ, masih ada pelunasan biaya haji yang menunggu. Karena itu, selain mengandalkan upah sebagai guru yang naik perlahan hingga angka Rp250 ribu per bulan, Malik dan Mudrika juga sempat mengadu nasib dengan beternak 300 ekor bebek petelur.

"Di rumah ya juga ada istri usaha kecil-kecilan ternak bebek petelur seperti itu. Di awal kami [menabung] Rp10 ribu, Rp20 ribu, Rp30 ribu. pokoknya ada rezeki kami masukkan di omplong (kaleng) biskuit itu.

Tapi, ujian sempat datang saat pandemi Covid-19 melanda. Usaha bebek petelur yang menjadi tumpuan tambahan mereka bangkrut karena harga pakan yang melonjak sementara harga telur anjlok.

Meski kehilangan sumber penghasilan tambahan, Malik tidak patah arang. Ia justru menganggap sisa penjualan aset bebek tersebut sebagai modal terakhir untuk pelunasan haji.

"Karena Corona bebek yang semula 300 [ekor] harganya akan semakin murah akhirnya sudah tidak mampu membeli pakan lagi itu. Semuanya sudah kami jual semuanya. Ya dari itulah semuanya saya niatkan untuk sangu untuk pelunasan haji ini," ucapnya.

Kini, saat kaki sudah berpijak di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, dan hanya hitungan jam ia akan terbang ke Tanah Suci, Malik tak henti-hentinya mengucap syukur. Baginya, bisa berangkat haji dengan latar belakang ekonomi yang pas-pasan adalah mukjizat.

"Masya Allah, ini adalah nikmat yang luar biasa, anugerah yang sangat besar bagi kami dan keluarga sehingga hari ini kami ada di gedung Asrama Haji Sukolilo. Jujur selawat yang selalu kami panjatkan yang setiap hari kami lantunkan untuk Baginda Rasulullah. Selawat dan istighfar yang selalu kami minta kepada Allah untuk bisa dimudahkan semuanya," ujar dia.

Malik menyimpan doa khusus bagi para siswanya di SD maupun di madrasah tsanawiyah tempatnya mengabdi. Ia ingin keberangkatannya menjadi inspirasi bagi murid-murid di pelosok desa bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.

"Kami ingin anak-anak kami, murid-murid kami yang pernah kami berikan ilmu, yang pernah kami tularkan ilmu, bisa seperti saya, bisa menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Karena barakah kami menjadi guru, kami hari ini bisa seperti ini. Pasti yakin ketika Allah memanggil kita siapapun itu, apapun usahanya, apapun latar belakang ekonominya, kalau Allah sudah memampukan, pasti Allah akan memanggil kita," pungkasnya.

(frd/dal)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research