Bakauheni, CNN Indonesia --
Selama satu dekade atau sepuluh tahun terakhir, kegelapan menjadi kawan setia para pelintas di ruas Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) di Provinsi Lampung.
Ribuan besi tiang Lampu Penerangan Jalan Umum (LPJU) yang berdiri menjulang di sepanjang jalur nadi tersebut, tak lebih dari sekadar "monumen besi" mati suri.
Namun, keajaiban bak legenda Roro Jonggrang kini dijanjikan Pemerintah Provinsi Lampung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hanya dalam waktu satu hari, jalur yang biasanya gelap gulita dan terkesan "horor" ketika matahari terbenam itu diklaim akan berubah menjadi terang benderang.
Nyawa di Ujung Kegelapan
Kondisi gelap di jalur arteri Jalinsum ini memang mengkhawatirkan.
Sebagai jalur utama bagi pemudik roda dua dan roda empat menuju gerbang Sumatera, ketiadaan cahaya bukan hanya sekadar masalah kenyamanan, melainkan juga pertaruhan nyawa.
Rasa cemas, selalu menghantui pemudik yang terpaksa harus melintas di tengah malam. Lubang dan gelombang jalan yang tak terlihat serta risiko dari tindak kejahatan jalanan, menjadi ancaman nyata di balik gulitanya Jalan Nasional tersebut.
Kegelapan itu tidak hanya terjadi di ruas Jalinsum saja, kondisi serupa pun terjadi di ruas Jalintim (Jalan Lintas Timur).
Padahal, ruas Jalinsum dan Jalintim ini sebagai jalur utama yang ramai dilalui kendaraan roda dua dan roda empat setiap momen mudik Lebaran.
Janji sehari Jalinsum terang
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal merespons keresahan kondisi gelap ruas Jalinsum. Ia menegaskan, perbaikan penerangan jalan ini, akan segera direalisasikan dalam waktu dekat demi mendukung pelayanan arus mudik Lebaran 2026.
Upaya ini dilakukan, untuk memberikan kenyamanan dan juga meningkatkan keselamatan pemudik yang melintas di jalan arteri di Provinsi Lampung.
"Ini Pak Kadishub tadi mengatakan akan merealisasikan, jadi Selasa (hari ini) lampu akan diperbaiki dan sudah terang lagi supaya pemudik yang melintas bisa lebih aman dan nyaman," ujar Mirza dengan nada optimis kepada para awak media di aula depan Kantor PT ASDP Cabang Bakauheni, Senin (16/3) malam.
Meski kabar ini menjadi angin segar bagi masyarakat, publik tentu bertanya-tanya. Bagaimana mungkin kerusakan ribuan LPJU di sepanjang ruas Jalinsum yang dibiarkan mangkrak begitu saja selama satu dekade, bisa selesai tuntas dalam hitungan jam atau satu hari.
Kini beban pembuktian itu ada di tangan pemerintah, apakah pengerjaan LPJU di sepanjang ruas Jalinsum benar-benar bersinar terang, atau tetap tenggelam dalam kegelapan yang sama.
10 Tahun Tanpa Perubahan
Pasalnya, kondisi gelap gulita di jalur arteri ruas Jalinsum mulai dari Bakauheni hingga menuju ke Kota Bandarlampung, masih menjadi momok bagi pemudik pengguna kendaraan roda dua dan roda empat. Setidaknya sekitar 95 persen LPJU tenaga Surya jenis LED (Light Emitting Diode) yang terpasang di sepanjang Jalan Nasional itu mati total.
Padamnya PJU di ruas viral Jalinsum ini, bukan masalah baru. Kondisi ini sudah berlangsung selama satu dekade (10 tahun), terhitung sejak momen mudik Lebaran tahun 2017 hingga tahun 2026 ini.
Meski pemerintah rutin menyiapkan strategi pengamanan arus mudik, aspek penerangan jalan di ruas Jalinsum sekolah luput dari perhatian meski ramai dilalui kendaraan pemudik.
Kondisi gelap ruas Jalinsum ini, sudah sering dikeluhkan masyarakat terutama saat menjelang mudik Lebaran karena membahayakan pengguna jalan.
Bahaya tinggi bagi kendaraan roda dua khususnya, dan roda empat terutama di tanjakan Tarahan dikenal "Tanjakan Maut" karena rawan sering terjadi laka lantas dan tindakan kejahatan jalanan karena minimnya visibilitas.
Kondisi gelap gulita di jalur arteri ruas Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum), mulai dari Bakauheni hingga Kota Bandarlampung, masih menjadi momok bagi pemudik, khususnya pengguna roda dua (motor), Sabtu (14/3). (CNNIndonesia/Zai)
Pantauan CNNIndonesia.com, Sabtu (14/3) malam sekira pukul 22.30 WIB, kerusakan PJU ini disebabkan komponen rusak seperti panel surya dan aki (accu) sudah tidak berfungsi, juga banyak hilang diduga dicuri sehingga menyisakan tiang-tiang besi kosong menjulang.
Untuk menyiasati kondisi kegelapan di jalur arteri Jalinsum ini, para pengendara hanya mengandalkan lampu utama kendaraan pribadi, dan pendar cahaya dari rumah warga atau warung-warung kecil di pinggir Jalinsum.
Salah satu titik paling krusial adalah Tanjakan Tarahan, yang dikenal dengan sebutan "Tanjakan Maut". Minimnya visibilitas di area ini, tentunya meningkatkan risiko ganda bagi pengendara.
Salah seorang warga Kecamatan Katibung, Saleh mengatakan, sudah sejak lama kondisi Jalinsum yakni di tanjakan maut Tarahan gelap gulita, karena PJU tenaga Surya yang terpasang sudah banyak yang rusak dan peralatan lampu tenaga Surya banyak hilang diduga dicuri.
"Sudah lama sekali, ada sekitar 19 tahun PJU di sepanjang tanjakan Tarahan semuanya mati total dan kondisinya gelap kalau malam hari. Selain rusak, peralatan JPU banyak hilang,"ucapnya, Sabtu malam lalu kepada CNNIndonesia.com.
Tanjakan Tarahan tersebut, lanjutnya, sudah seringkali terjadinya kecelakaan lalu lintas (laka lantas) dan banyak makan korban jiwa.
Dengan kondisi jalan gelap, sehingga banyak terjadi kecelakaan seperti pengendara sulit melihat ada tumpahan oli, jalan berlubang, dan pembatas jalan (road barrier).
"Selain sering terjadi kecelakaan, kondisi gelap di tanjakan Tarahan sering dimanfaatkan tindakan kejahatan jalanan penidongan. Kami berharap, harus ada perhatian mengenai kondisi ini," ujar Saleh.
Senada dengan Saleh, warga lainnya, Juhari (57) menyebut selain sering terjadi laka juga rawan tindakan kejahatan jalanan. Sehingga membuat pekerja yang pulang malam setelah lembur, merasa ketakutan saat melintas.
"Kami berharap ada perhatian. Kalau kondisi jalan terang, pengguna kendaraan melintas malam hari pasti akan merasa aman dan nyaman khususnya bagi pemudik,"imbuhnya.
Sementara itu, Aldi (38), salah seorang pemudik pemotor asal Tangerang mengaku kecewa karena kondisi Jalinsum tidak ada perubahan, masih tetap gelap dan terus berulang setiap tahun.
"Sudah lima tahun ini saya .udik lewat jalan sini (Jalinsum) menggunakan motor, dan kondisinya masih tetap sama gelap. Mudik tahun 2025, saya nyaris jatuh dari motor akibat lubang jalan karena tidak terlihat akibat kondisi jalan gelap ini,"ujar pria yang mudik ke Lampung Tengah ini disela beristirahat di sebuah warung.
"Pastinya tidak nyaman kalau kondisi jalan yang dilalui gelap. Mestinya inikan menjadi perhatian pemerintah, untuk keamanan dan kenyamanan pemudik,"kata dia.
(zai/kid)
Add
as a preferred source on Google

7 hours ago
2













































