Kapal induk USS Abraham Lincoln salah satu armada tempur yang dikerahkan untuk menyerang Iran.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas. Di satu sisi, ancaman militer menggelegar dari Tel Aviv dan Washington. Di sisi lain, tangan-tangan diplomasi masih terjulur, menawarkan negosiasi di balik pintu tertutup. Iran dan Amerika Serikat kini berada dalam hitungan hari, bukan bulan, untuk menentukan apakah kawasan ini akan berdarah atau berdamai.
Gedung Putih memberi batas tegas. Donald Trump, dalam pernyataan singkatnya di atas Air Force One, memberi Iran waktu maksimal 15 hari untuk mencapai kesepakatan. Jika tidak, "akan sangat buruk bagi mereka," katanya. Pernyataan itu bukan sekadar retorika.
The Wall Street Journal melaporkan bahwa tim Trump tengah mengkaji opsi militer. Dua skenario mengemuka: pertama, kampanye militer selama seminggu untuk melemahkan rezim; kedua, serangan terbatas yang ditargetkan pada fasilitas pemerintah dan militer Iran. Namun, para pejabat AS sendiri memperingatkan risiko eskalsi. Serangan semacam itu bisa memicu pembalasan luas dari Teheran, menyeret Washington ke dalam perang terbuka di Timur Tengah.
Kesiapsiagaan Israel: "Respons yang Tak Terbayangkan"
Di kawasan, Israel sudah mengambil posisi. Perusahaan Penyiaran Israel, mengutip sumber keamanan, menyatakan bahwa Tel Aviv tidak akan tinggal diam. Jika kedaulatan mereka dilanggar, mereka akan menyerang balik. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memperkeras nada: "Jika rezim Iran melakukan kesalahan dan menyerang kami, mereka akan menerima respons yang tidak pernah mereka bayangkan."
Isyarat militer juga terlihat. Sebuah pesawat rahasia milik Unit Operasi Khusus AS dilaporkan mendarat di Bandara Ben Gurion, Tel Aviv, Kamis lalu. Kedatangan ini memicu spekulasi tentang koordinasi Intelijen dan militer yang lebih erat antara kedua sekutu dalam menghadapi potensi serangan dari Teheran.

1 week ago
2












































