REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Upaya menumbuhkan budaya literasi di Indonesia terus bergerak dengan wajah yang semakin hangat dan dekat dengan masyarakat. Dari ruang kelas taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi, berbagai inisiatif hadir tidak hanya untuk meningkatkan minat baca, tetapi juga membentuk karakter dan keterampilan generasi masa depan.
Di Kota Makassar, misalnya, Pemerintah Kota melalui Dinas Perpustakaan menghadirkan pendekatan yang menyenangkan lewat Program Dongeng Keliling yang dipadukan dengan perpustakaan keliling, atau Dongkel with Mobile Library. Program ini menyasar anak usia dini, mengajak mereka mengenal buku melalui cerita dan imajinasi.
Suasana ceria terlihat saat tim Dongkel mengunjungi TK Abigail Preschool Makassar. Sebanyak 33 siswa mengikuti kegiatan tersebut dengan antusias, terlebih saat pendongeng Chaerunnisa Latief, yang akrab disapa Kak Nisa, membawakan kisah “Aisyah Suka Membaca Buku” bersama boneka Aco.
Kepala TK Abigail Preschool Erlina Maulidyah menyebut kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menanamkan kecintaan membaca sejak dini, sekaligus memperingati Hari Buku Anak Internasional dan Hari Bumi. “Kami percaya, pengalaman yang menyenangkan seperti ini akan membekas dan menumbuhkan budaya baca anak-anak,” ujarnya .
Tak berhenti pada mendengarkan cerita, anak-anak kemudian diajak membaca buku bergambar bersama pendamping. Pendekatan ini menjadi cara sederhana namun efektif untuk menanamkan nilai literasi, sekaligus memperkenalkan pesan moral dan kepedulian terhadap lingkungan.
Di Yogyakarta, semangat yang sama hadir dalam bentuk penguatan kualitas layanan. Perpustakaan Probosoetedjo Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) kembali meraih predikat akreditasi A dari Perpustakaan Nasional RI. Capaian ini menjadi refleksi konsistensi dalam menghadirkan layanan yang relevan, inovatif, dan mendukung kebutuhan akademik.
Kepala Bagian Perpustakaan UMBY Nurrohmah Hidayah menegaskan, akreditasi tersebut merupakan hasil dari upaya berkelanjutan dalam meningkatkan mutu layanan, mulai dari pengelolaan koleksi hingga pemanfaatan teknologi informasi. Penilaian dilakukan secara menyeluruh, mencakup sembilan aspek penting, termasuk inovasi dan tingkat kegemaran membaca.
Rektor UMBY Agus Slamet pun mengapresiasi capaian tersebut sebagai bagian dari komitmen kampus dalam menghadirkan pendidikan yang berkualitas dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Sementara itu, di Kabupaten Bangka Barat, perpustakaan daerah hadir sebagai ruang belajar yang lebih dinamis. Tidak hanya menyediakan bahan bacaan, tetapi juga membekali siswa dengan keterampilan membaca cepat dan menulis resensi.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Bangka Barat Farouk Yohansyah mengatakan, kemampuan membaca cepat menjadi penting agar siswa lebih mudah memahami informasi dan mampu menghadapi tantangan belajar yang semakin kompleks.
Melalui pendampingan pustakawan, para siswa diajak mengolah bacaan menjadi ringkasan, memahami tema, hingga menarik kesimpulan. Program ini menjadi bagian dari Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial yang menempatkan perpustakaan sebagai pusat pengembangan kapasitas masyarakat.
sumber : Antara

2 weeks ago
10













































