
Oleh: Dr. CA. Jamaluddin, LC, Ms.J, Pemerhati Hubungan Indonesia – Timur Tengah dan Isu-isu Global
REPUBLIKA.CO.ID, Republik Arab Mesir, Republik Indonesia dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) memiliki hubungan emosional secara politis yang sangat kuat. Ketiga negara tersebut merupakan bagian dari kelompok G-77 (Global South) plus China yang perannya sangat significant dalam mendorong kerja sama antarsesama negara berkembang di bidang ekonomi, ilmu pengetahuan, teknologi, dan pembangunan berkelanjutan.
Dari prespektif tinjauan ekonomi, RRT saat ini tidak diragukan telah memiliki peran besar yang sangat penting dalam perekonomian global, namun secara politis senantiasa menamakan dirinya bagian tak terpisahkan dari corong kritis Global South dalam keseimbangan diplomasi global, bahkan Rusia dalam beberapa kesempatan memainkan sikap yang cenderung tidak bersebrangan dengan kepentingan kelompok G-77 tersebut, khususnya dalam menghadapi dominasi ekonomi politik negara-negara maju (Barat).
Kelompok 77 atau G-77 adalah koalisi terbesar negara-negara berkembang di dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bertujuan untuk memajukan kepentingan ekonomi bersama dan memperkuat kapasitas negosiasi kolektif anggotanya. Organisasi ini dibentuk pada 15 Juni 1964 melalui "Deklarasi Bersama Tujuh Puluh Tujuh Negara" pada Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) di Jenewa, Swiss. Meskipun namanya tetap Kelompok 77, organisasi ini kini telah berkembang beranggotakan sekitar 134 hingga 135 negara berkembang dari wilayah Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Karibia.
Dalam berbagai forum internasional, kelompok ini bekerja sama dengan China sehingga dinamakan G-77 plus China, meski China bukan anggota resmi penuh dari kelompok ini, namun sikapnya senantiasa sejalan Negara-negara Selatan di Forum PBB tersebut. Lantas apa korelasi kunjungan Presiden RRT, Xi Jinping ke Kairo, Mesir yang dilakukan bersamaan dengan kunjungan Presiden Prabowo ke Rusia 2-3 September 2026 ini? Apakah benar kunjungan kedua pemimpin dari Global South secara politis sebagai bagian dari diplomasi penyeimbang?.
Kunjungan Presiden Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Xi Jinping ke Kairo Mesir bertepatan dengan kunjungan Presiden Indonesia Prabowo Subianto ke Rusia pada awal September 2026, yang bersama-sama memecahkan gambaran geopolitik yang lebih luas yang mencerminkan langkah-langkah negara-negara Global South menuju penguatan kemitraan yang seimbang dengan kekuatan-kekuatan besar dalam sistem internasional multipolar.
Selain itu, kunjungan Presiden RRT ini – yang pertama dalam satu dekade – merupakan puncak dari kemitraan strategis komprehensif dan peringatan 70 tahun hubungan diplomatik antara Mesir dan RRT. Sejumlah media asing melaporkan, kunjungan tersebut bertujuan untuk memperkuat hubungan bilateral antara kedua negara di berbagai bidang politik, ekonomi, dan pembangunan. Diskusi juga berfokus pada lokalisasi industri, kerja sama dalam mata uang lokal, dan penolakan campur tangan asing dalam urusan Timur Tengah.
Kunjungan ini nampaknya, bagian dari konsep "perlombaan kekuatan besar untuk menguasai garis depan dunia Arab" yang dapat diringkas sebagai persaingan strategis yang intens di antara kekuatan global, seprti (Amerika Serikat, Tiongkok, dan Rusia) untuk mengendalikan dan memberikan pengaruh atas perbatasan dan gerbang geopolitik vital yang merupakan garda terdepan dunia Arab (Ali Wahb 2013).
Kata "garis depan" secara harfiah berarti "bagian depan kendaraan atau pesawat terbang" atau bagian yang paling menonjol dari sesuatu. Dalam konteks geopolitik, istilah ini merujuk pada selat maritim, jalur air, dan pusat logistik pesisir yang mengawasi rute perdagangan global dan pasokan energi.
Pusat Persaingan dalam konteks Arketipe Geografi Arab (geopolitik dan sejarah Jazirah Arab) merujuk pada wilayah geografis strategis yang menjadi titik temu atau benturan kepentingan antara imperium-imperium besar dan suku-suku lokal untuk memperebutkan kendali perdagangan, pengaruh politik, serta supremasi wilayah. Negara-negara besar termasuk RRT memfokuskan perhatiannya pada titik-titik penting yang mewakili gerbang dan perbatasan dunia Arab, seperti Selat Bab el-Mandeb dan Tanduk Afrika, jalur geografis yang menghubungkan Laut Merah ke Samudra Hindia. Selanjutnya, Terusan Suez yang merupakan jalur perdagangan tercepat dan terpenting, di mana kekuatan-kekuatan besar berupaya meningkatkan investasi di zona ekonominya untuk memastikan kelancaran arus barang dan perdagangan mereka.
Selain itu, Selat Hormuz telah menjadi gerbang utama untuk mengekspor minyak dan gas Negara-negara Teluk ke pasar global, menjadikannya titik rawan yang konstan untuk melindungi keamanan energi global. Pelabuhan-pelabuhan pesisir di Laut Mediterania: gerbang menuju Afrika Utara dan Levant, yang merupakan penghubung langsung ke benua Eropa dan kedalaman strategis dalam perhitungan posisi militer dan angkatan laut.
Kekuatan-kekuatan besar menggunakan berbagai cara untuk membangun pijakannya di lokasi-lokasi vital ini dengan melakukan investasi besar-besaran dalam pengembangan pelabuhan. Proyek-proyek logistik melalui inisiatif besar, seperti (China's Belt and Road Initiative).
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

6 hours ago
3

















































