Jakarta, CNBC Indonesia - Korea Selatan menetapkan status siaga tertinggi setelah tiga penyakit ternak berbahaya menyebar secara bersamaan di berbagai wilayah negara. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan pangan serta potensi kenaikan harga produk peternakan.
Tiga penyakit yang dimaksud adalah flu burung patogen tinggi (highly pathogenic avian influenza/HPAI), demam babi Afrika (African swine fever/ASF), dan penyakit mulut dan kuku (foot-and-mouth disease/FMD). Penyebaran ketiganya secara bersamaan dinilai sebagai situasi yang jarang terjadi dan berisiko besar bagi industri peternakan.
Melansir Strait Times, Kementerian Pertanian, Pangan, dan Urusan Pedesaan Korea Selatan pada 16 Maret menyatakan, ketiga penyakit tersebut masih berada pada tingkat kewaspadaan tertinggi dari empat level peringatan yang ada. Pemerintah juga memperpanjang masa karantina khusus selama satu bulan hingga akhir Maret.
Di Korea Selatan, ketiga penyakit ini diklasifikasikan sebagai penyakit menular ternak Tipe 1, kategori paling serius karena dapat menyebar sangat cepat dan menimbulkan dampak ekonomi besar.
Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (World Organisation for Animal Health) juga memasukkan ketiganya dalam kategori penyakit A, yakni penyakit yang dapat menyebar cepat dan berpotensi mengganggu perdagangan internasional secara signifikan.
Sebelumnya, wabah tiga penyakit tersebut tidak pernah terjadi secara bersamaan dalam periode 2019, saat demam babi Afrika pertama kali terdeteksi di Korea Selatan, hingga 2024. Namun kini, ketiganya muncul bersamaan untuk tahun kedua berturut-turut, memicu kekhawatiran di kalangan pakar veteriner.
Sejumlah ahli bahkan menyebut Korea Selatan saat ini kemungkinan menjadi satu-satunya negara anggota Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) yang mengalami wabah tiga penyakit ternak besar secara bersamaan.
Data pemerintah menunjukkan situasi semakin memburuk. Pada musim dingin 2025-2026, flu burung patogen tinggi terdeteksi di 56 peternakan unggas. Angka ini meningkat dari 32 kasus pada musim 2022-2023 dan 49 kasus pada musim 2024-2025.
Demam babi Afrika juga menyebar dengan cepat. Dalam waktu sedikit lebih dari dua bulan, tercatat 22 kasus baru, angka tertinggi yang pernah tercatat dan hampir tiga kali lipat dari rata-rata tahunan sekitar 7,9 kasus selama periode 2019-2025.
Sementara itu, otoritas juga telah mengonfirmasi tiga kasus penyakit mulut dan kuku sepanjang 2026. Wabah tersebut mulai berdampak pada pasokan pangan. Lebih dari 9,8 juta ayam petelur dimusnahkan sepanjang musim dingin ini, jumlah tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Korea Rural Economic Institute memperkirakan produksi telur harian pada Maret akan turun sekitar 5,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Di sektor peternakan babi, pemusnahan akibat demam babi Afrika juga melonjak tajam. Lebih dari 150.000 ekor babi dimusnahkan, lebih dari empat kali lipat dibandingkan sekitar 34.000 ekor pada 2025.
Lembaga tersebut memproyeksikan harga grosir daging babi rata-rata akan naik sekitar 3,3% pada 2026 seiring menurunnya pasokan.
(hsy/hsy)
Addsource on Google













































