Ketika Ketelitian Berubah Menjadi Penjara Mental: Meluruskan Stigma OCD

2 hours ago 1

Image Rijal Ulil Abshar

Gaya Hidup | 2026-08-18 10:55:51

Sejatinya, apa yang tertulis di sini merupakan cerminan nyata dari pengalaman pribadi penulis. OCD kerap dijadikan lelucon. Orang sering bercanda “rajin banget jadi cowo beres-beres rumah” atau “buat apa dicuci mobilnya percuma kan ini musim hujan, nanti kotor lagi”. Padahal OCD itu bukan sekedar kerapihan atau kebersihan, OCD adalah rasa takut yang terus menghantui, pikiran mengganggu yang tidak bisa dimatikan, siklus tak berujung yang menguras energi.

Di dalam dunia medis dikenal dua komponen utama dalam OCD: obsesif dan kompulsif. Obsesi memunculkan pikiran-pikiran mengganggu yang sangat menyiksa. Untuk mengurangi rasa cemas dari pikiran tersebut, penderita biasanya melakukan kompulsi yakni tindakan berulang yang memang bisa memberikan ketenangan, meskipun tindakan tersebut hanyalah sementara.

OCD dengan perilaku obsesif biasanya didorong dengan pikiran yang sebenarnya tidak diinginkan dan dapat menyebabkan penderitanya merasa cemas jika tidak dilakukan. Berikut ada beberapa contoh ciri-ciri tindakan OCD obsesif, yakni:

o Merasa takut secara berlebihan terhadap kontaminasi kuman, virus, atau kotoran

o Kesulitan dalam menghadapi ketidakpastian. Misalnya, Anda akan merasa khawatir secara berlebihan ketika menduga apakah gembok pagar rumah telah terkunci atau belum.

o Memiliki keinginan untuk menata barang atau benda tertentu dengan tepat dan simetris. Misalnya, menata baju di lemari berdasarkan warna atau bisa pula menata buku mulai dari yang besar ke yang kecil.

Sedangkan, OCD kompulsif sedikit berbeda dengan obsesif, perilaku kompulsif ini biasanya bertujuan untuk mengurangi rasa cemas karena penderitanya memiliki pemikiran obsesif tersebut dan sering kali tindakan kompulsif ini sedikit tidak masuk akal. Misalnya, mencuci tangan berulang kali.

Lalu mengapa OCD sangat begitu menyiksa?

Dalam otak penderita OCD menunjukkan aktivitas berlebih pada orbitofrontal cortex, anterior cingulate cortex, dan basal ganglia-area yang mengatur rasa takut, pengambilan keputusan dan kebiasaan. Selain itu, terjadi ketidakseimbangan neurotransmitter serotonin. Akibatnya, meskipun penderita sering menyadari bahwa pikirannya ‘berlebihan’ atau ‘tidak logis’, mereka tetapi tidak mampu menghentikannya tanpa bantuan.

Seseorang yang mengalami OCD sejatinya tidak menikmati kebiasaan berulang tersebut, mereka merapikan sesuatu atau mencuci tangan berkali-kali itu bukan semata-mata senang terlihat bersih, melainkan ada rasa ketakutan yang berlebihan, bahwa jika kebiasaan berulang itu tidak dilakukan akan timbul rasa cemas.

Dampak dari salah kaprah ini sangat nyata. Ketika OCD diremehkan sekadar sebagai "trend kerapihan", penderitaan sesungguhnya dari para penderita menjadi terasingkan. Rasa malu, takut dianggap "gila", atau ada rasa kekhawatiran dipandang lemah membuat banyak dari mereka memilih diam. Tidak sedikit yang membutuhkan waktu bertahun-tahun hanya untuk berani mencari bantuan profesional, akibat stigma yang mengabaikan kedalaman rasa sakit mereka.

Meluruskan stigma OCD bukan sekadar persoalan koreksi istilah, melainkan bentuk empati manusiawi. Kita perlu mulai menghentikan penggunaan diagnosis medis sebagai kata sifat sehari-hari dan mau belajar memahami realitas kesehatan mental secara utuh. Sudah saatnya kita meruntuhkan dinding penjara mental tersebut dengan mengedukasi diri, memperluas pemahaman, serta memberikan ruang yang aman dan penuh empati bagi mereka yang sedang berjuang di dalamnya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research