Kenyang Santap Takjil Saat Berbuka Berisiko Kekurangan Protein, Ini Penjelasan Pakar Gizi

1 week ago 6

Pengurus masjid menyajikan Bubur Peca untuk berbuka puasa di Masjid Shiratal Mustaqiem di Samarinda Seberang, Samarinda, Kalimantan Timur, Sabtu (21/2/2026). Pengurus masjid membagikan sedikitnya 300 porsi Bubur Peca setiap harinya selama bulan Ramadhan kepada warga sebagai upaya melestarikan tradisi makanan khas Kampung Masjid Samarinda Seberang yang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda tingkat nasional, dan diwariskan turun-temurun sekitar 100 tahun lalu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ahli gizi Dr. Rita Ramayulis mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan takjil sebagai sumber utama asupan saat berbuka puasa karena berisiko menyebabkan kekurangan zat gizi penting.

“Biasanya takjil bahan utamanya karbohidrat, ada tambahan gula atau digoreng dengan minyak. Jadi kaya karbohidrat dan lemak saja, tapi rendah protein dan mikronutrien,” kata Rita yang merupakan Ketua Indonesia Asosiasi Ahli Gizi Olahraga (ISNA) saat dihubungi Jumat (20/2/2026).

Ahli gizi yang memperoleh gelar Magister Gizi dan Kesehatan di Universitas Gadjah Mada itu menjelaskan takjil yang umum dikonsumsi masyarakat umumnya berbahan dasar tepung, gula, dan minyak sehingga lebih dominan mengandung karbohidrat dan lemak, tetapi rendah protein serta mikronutrien.

Dosen kesehatan masyarakat di Universitas Faletehan Serang itu menilai kondisi tersebut dapat berdampak pada kecukupan gizi apabila seseorang sudah merasa kenyang karena takjil lalu melewatkan makan utama.

“Kalau seseorang hanya kenyang dengan takjil saja, berisiko kekurangan asupan protein yang merupakan zat gizi utama yang dibutuhkan tubuh, juga kekurangan serat dan beberapa mikronutrien,”kata dia.

Protein sendiri memiliki peran penting dalam menjaga massa otot, memperbaiki jaringan tubuh, serta mendukung sistem kekebalan selama berpuasa.

sumber : Antara

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research