Kemenkes Catat 23 Kasus Hantavirus di Indonesia, Kenali Faktor Risikonya

6 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hantavirus tipe Andes yang mewabah di kapal pesiar MV Hondius telah memicu kekhawatiran global, karena telah menyebabkan tiga pasien meninggal dan beberapa lainnya sakit. Namun ternyata, kasus hantavirus strain berbeda juga pernah terdeteksi di Indonesia.

Kementerian Kesehatan RI mencatat, ada sebanyak 23 kasus konfirmasi positif hantavirus ditemukan di Indonesia sepanjang 2024 hingga 2026. Dari jumlah tersebut, tiga orang dilaporkan meninggal dunia dengan tingkat kematian kasus atau Case Fatality Rate (CFR) sebesar 13 persen.

"Kasus konfirmasi yang ditemukan merupakan penyakit Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) strain Seoul Virus," kata Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, dalam pernyataan resmi dikutip Senin (11/5/2026).

Penyebaran kasus tercatat di sejumlah wilayah Indonesia. Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi daerah dengan jumlah kasus terbanyak, masing-masing enam kasus.

Sementara itu, Jawa Barat mencatat lima kasus. Lalu Banten, Sumatra Barat, Kalimantan Barat, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Utara, masing-masing satu kasus. Virus hanta merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan dari tikus atau celurut kepada manusia.

Kemenkes mengungkap sejumlah faktor risiko penularan hantavirus. Risiko tinggi ditemukan pada pekerjaan yang berkaitan dengan kontak dengan tikus, seperti petugas kebersihan, petani, pekerja konstruksi, pengendali hama, pembersih selokan, hingga pekerja laboratorium yang menangani reservoir.

Selain itu, aktivitas di area berisiko seperti gudang lama, area terbengkalai, dan ruang bawah tanah juga disebut dapat meningkatkan potensi paparan virus. Wilayah dengan populasi tikus tinggi dan curah hujan tinggi turut menjadi faktor risiko penyebaran penyakit ini.

"Faktor risiko selanjutnya adalah kontak dengan sumber infeksi saat melakukan aktivitas hobi maupun wisata, seperti mendaki gunung dan berkemah," demikian kata Kemenkes.

Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diimbau tetap menjalankan protokol kesehatan dengan rutin mencuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer serta menerapkan etika batuk dan bersin. Masyarakat juga diminta menghindari kontak langsung dengan rodensia atau ekskresi dan sekresinya, menjaga kebersihan tempat tinggal dan tempat kerja, serta menyimpan makanan dan minuman dalam wadah tertutup untuk mencegah kontaminasi tikus.

Selain itu, warga diminta menutup seluruh lubang di dalam maupun luar rumah guna mencegah rodensia masuk ke area hunian. Kemenkes mengimbau masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami gejala penyakit virus hanta seperti demam, sakit kepala, nyeri badan, malaise, batuk, dan sesak napas.

Para ahli juga mengungkap bahwa degradasi lingkungan yang disebabkan oleh perubahan iklim dan aktivitas manusia berkontribusi pada penyebaran hantavirus. Kondisi ini memungkinkam hewan pengerat berkembang biak di wilayah baru.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research