Kebakaran RSUD Dr Soetomo, RS Bantah Hidran Tak Berfungsi Optimal

3 hours ago 2

Surabaya, CNN Indonesia --

Sistem hidran di gedung Pusat Pelayanan Jantung Terpadu (PPJT), RSUD Dr Soetomo Surabaya diduga tak berfungsi optimal saat peristiwa kebakaran terjadi, Jumat (15/5) pagi.

Namun, hal itu dibantah oleh manajemen rumah sakit.

Wakil Direktur Pelayanan Medik & Keperawatan RSUD Dr Soetomo Prof Dr Ahmad Suryawan menampiknya. Ia menyebut, seluruh hidran yang ada di Gedung PPJT masih berfungsi secara normal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mengenai hydrant indoor dan outdoor, kemungkinan tekanannya bisa jadi [kurang optimal], tapi fungsinya pasti berjalan," kata Suryawan, di lokasi kejadian, Jumat (15/5).

Sementara itu, Koordinator Red Code RSUD Dr Soetomo, Dwi K mengatakan, gedung PPJT memiliki dua hidran, yakni di bagian outdoor dengan ukuran selang 2,5 inci dan indoor 1,5 inci.

"Punya kami digunakan [hidran] yang di dalam, karena [kebakaran] ada di dalam gedung. Yang luar karena ada supporting dari tim Damkar, karena tekanannya dari luar," kata Dwi.

Dwi menyebut, kedua hidran tersebut seluruhnya masih berfungsi dengan baik. Tapi, tekanannya disebut kurang kuat untuk menjangkau api yang berada di sisi belakang lantai 5 Gedung PPJT.

"Terkait fungsi PPJT box indoor kami berfungsi, namun harapan dari tim Damkar itu tekanannya yang bisa tinggi. Namun kemampuan dari hidran kami dirasa belum cukup," ucapnya.

Senada, Kepala Instalasi Hukum, Humas dan Pemasaran RSUD Dr Soetomo Martha Kurnia K mengatakan, pihaknya berhasil melakukan penanganan kebakaran menggunakan sistem proteksi internal gedung, dan berkat koordinasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP), serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Surabaya.

"Proses penanganan awal kebakaran sendiri, petugas rumah sakit segera melakukan pemadaman menggunakan sistem proteksi internal gedung sambil menghubungi petugas pemadam kebakaran. Respons cepat seluruh pihak berhasil melokalisir api sehingga tidak meluas ke area maupun lantai lain di lingkungan rumah sakit," kata Martha dalam keterangan tertulisnya.

Direktur Utama RSUD Dr Soetomo, Prof Dr Cita Rosita Sigit Prakoeswa menegaskan kematian pasien dalam kejadian itu murni disebabkan oleh faktor penyakit yang diderita, bukan karena dampak kebakaran maupun paparan asap.

Cita mengatakan, pasien itu memang dalam kondisi medis yang kritis sebelum kebakaran terjadi. Saat insiden berlangsung, pasien tersebut sedang mendapatkan bantuan melalui alat medis karena mengalami kegagalan fungsi pada beberapa organ tubuh utama.

"Meninggal karena penyakit. Karena memang itu tadi sesuai dengan penjelasan kawan-kawan bahwa kondisi sudah tersupport oleh tiga organ, yaitu paru-paru, jantung, dan ginjal. Dan cuci darah sedang on the way, dan kami tetap melakukan evakuasi, dan tentu bukan karena asap karena semuanya tersupport oleh mesin ya," kata Cita.

Kesaksian keluarga korban meninggal

Sementara itu, pasien RSUD Dr Soetomo Surabaya dinyatakan meninggal dunia saat kejadian kebakaran melanda lantai 5 Gedung Pusat Pelayanan Jantung Terpadu (PPJT), Jumat (15/5).

Satu pasien yang meninggal itu bernama Sutaji (46), asal Desa Kapuan, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Pasien yang sempat dirawat di ruang ICCU pada lantai 6 itu dinyatakan meninggal dunia meski sudah berhasil dievakuasi.

Yuli, istri korban, mengatakan saat kejadian Sutaji menjadi pasien yang terakhir dievakuasi petugas. Sebelumnya ada juga pasien dengan kondisi kritis lain yang berhasil diselamatkan.

Dia mengaku sempat kebingungan mencari keberadaan Sutaji sebab mereka terpisah. Suaminya itu dirawat di ruang ICCU yang tak bisa didampingi keluarga secara terus-menerus.

Walhasil saat kejadian, Yuli yang panik, menyelamatkan diri lebih dulu ke luar gedung sembari pasrah dan berharap suaminya berhasil dievakuasi oleh petugas.

"Saya nyari sana-sini ternyata masih tinggal di atas dua orang. Yang pertama itu sudah turun, bapaknya yang terakhir," kata Yuli dengan terbata.

Saat proses evakuasi itu, seluruh listrik di gedung PPJT dipadamkan. Yuli pun menyelamatkan diri ke lantai dasar dengan menggunakan tangga darurat sebab lift sudah tidak berfungsi.

"Listriknya dimatikan, enggak bisa. Turun langsung pakai tangga darurat, enggak bisa pakai lift," ujarnya.

Yuli mengatakan, tak lama kemudian dia bertemu dengan Sutaji. Tapi, kondisi suaminya itu makin lemah. Sesaat setelah dipindahkan ke Ruang Resusitasi (RES) IGD, pria asal Blora itu pun dinyatakan meninggal dunia.

"Pas posisi turun jantung bapak sudah lemah, langsung enggak ada," kata Yuli, tangisnya pun pecah.

Direktur Utama RSUD Dr Soetomo, Prof Dr Cita Rosita Sigit Prakoeswa menegaskan kematian pasien dalam kejadian itu murni disebabkan oleh faktor penyakit yang diderita, bukan karena dampak kebakaran maupun paparan asap.

Cita mengatakan, pasien itu memang dalam kondisi medis yang kritis sebelum kebakaran terjadi. Saat insiden berlangsung, pasien tersebut sedang mendapatkan bantuan melalui alat medis karena mengalami kegagalan fungsi pada beberapa organ tubuh utama.

"Meninggal karena penyakit. Karena memang itu tadi sesuai dengan penjelasan kawan-kawan bahwa kondisi sudah tersupport oleh tiga organ, yaitu paru-paru, jantung, dan ginjal. Dan cuci darah sedang on the way, dan kami tetap melakukan evakuasi, dan tentu bukan karena asap karena semuanya tersupport oleh mesin ya," kata Cita.

Seperti diketahui, kebakaran melanda Gedung Pusat Pelayanan Jantung Terpadu (PPJT) RSUD Dr Soetomo, Surabaya, pada Jumat (15/5) pagi. Dugaan sementara api berasal dari korsleting listrik lemari es yang berada di ruang farmasi pada lantai 5 Gedung tersebut.

Sebanyak 44 pasien pun dievakuasi dari gedung PPJT tersebut. Namun satu pasien atas nama Sutaji (46), asal Desa Kapuan, Kecamatan Cepu, Blora, Jawa Tengah, yang tengah dirawat di ruang ICCU pada lantai 6, dinyatakan meninggal dunia meski sudah berhasil dievakuasi.

(frd/bac)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research