Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
14 May 2026 16:30
Jakarta, CNBC Indonesia —Suara tembakan terdengar di kompleks Senat Filipina pada Rabu (13/5/2026). Insiden itu kembali memunculkan perhatian terhadap tingginya kepemilikan senjata api dan sejarah panjang budaya senjata di Filipina.
Suara tembakan di gedung Senat Filipina terdengar saat situasi politik negara tersebut sedang memanas. Insiden itu terjadi ketika aparat disebut bergerak terkait Senator Ronald "Bato" dela Rosa, mantan Kepala Kepolisian Nasional Filipina yang dikenal dekat dengan mantan Presiden Rodrigo Duterte.
Dela Rosa merupakan salah satu tokoh penting dalam perang anti-narkoba era Duterte.
Kebijakan keras tersebut kini menjadi sorotan Mahkamah Pidana Internasional atau International Criminal Court (ICC), karena diduga berkaitan dengan banyak kematian dalam operasi pemberantasan narkoba.
Peristiwa itu membuat perhatian kembali mengarah ke Filipina, negara yang dikenal memiliki akses senjata api cukup luas.
Sejarah Budaya Senjata di Filipina
Budaya senjata di Filipina sudah terbentuk sejak lama. Saat Amerika Serikat menjajah Filipina pada awal 1900-an, warga sipil diperbolehkan memiliki senjata api berkaliber besar untuk keperluan yang dianggap sah, termasuk berburu.
Aturan itu kemudian berubah pada 1972, ketika Ferdinand Marcos memberlakukan darurat militer.
Pada masa tersebut, kepemilikan senjata dibatasi. Masyarakat sipil hanya boleh memiliki satu senapan berkaliber kecil dan satu pistol atau revolver. Keduanya juga wajib memiliki lisensi.
Namun, pembatasan itu kembali dilonggarkan pada 2000. Presiden Filipina kala itu, Joseph Estrada mencabut batasan tersebut dan mengizinkan warga memiliki senjata dalam jumlah banyak, termasuk berbagai jenis dan kaliber.
Pada 2013, Filipina mengesahkan aturan baru mengenai kepemilikan dan izin membawa senjata di ruang publik. Pemilik senjata berlisensi harus berusia minimal 21 tahun, mengikuti seminar keselamatan senjata api, dan memenuhi beberapa syarat lain.
Tergantung jenis lisensinya, sebagian besar pemilik senjata dapat memiliki hingga 15 unit senjata, termasuk pistol, senapan, dan shotgun. Kolektor senjata bahkan bisa memiliki lebih dari 15 unit. Masa berlaku lisensinya juga bisa mencapai 10 tahun.
Film Action Ikut Membentuk Budaya Senjata di Filipina
Budaya senjata di Filipina juga dipengaruhi oleh industri hiburan. Sebelum menjadi presiden, Joseph Estrada dikenal sebagai bintang film action. Dia sering memerankan tokoh jagoan bersenjata yang melawan penjahat.
Film action sangat populer di Filipina. Film seperti ini sering menampilkan sosok laki-laki yang kuat, adegan baku tembak, dan penggunaan senjata sebagai cara untuk membela diri di tengah lingkungan yang penuh kejahatan.
Popularitas film action ikut membuat senjata lebih mudah diterima dalam kehidupan masyarakat. Bagi sebagian orang, senjata tidak hanya dilihat sebagai benda berbahaya, tetapi juga sebagai simbol perlindungan, keberanian, dan status sosial.
Di masyarakat miskin, senjata kerap muncul dalam konflik antar-geng. Senjata murah bisa diperoleh dari pasar gelap.
Sementara itu, bagi masyarakat kelas menengah ke atas, klub menembak berkembang sebagai tempat olahraga. Di kalangan orang kaya, koleksi senjata dan pengawal bersenjata juga menjadi hal yang umum.
Korban Biasanya Bukan Orang Biasa
Meski senjata cukup mudah ditemukan, korban kekerasan bersenjata di Filipina biasanya bukan orang biasa yang ada di tempat umum. Banyak kasus berkaitan dengan uang, dendam, politik, atau kejahatan.
Kemiskinan menjadi salah satu faktor penting. Hampir seperempat penduduk Filipina hidup di bawah garis kemiskinan. Dalam beberapa kasus pembunuhan bersenjata, uang menjadi alasan utama pelaku menerima perintah membunuh.
Ada kasus seorang pembunuh bayaran daerah yang mengaku melakukan pembunuhan demi imbalan US$500 untuk membantu anaknya yang menderita meningitis. Dalam kasus lain, seorang pria bersenjata mengaku membunuh seorang mekanik dengan bayaran US$400.
Faktor "Hiya" dalam Masyarakat Filipina
Salah satu teori menarik yang menjelaskan mengapa penembakan massal acak jarang terjadi di Filipina adalah konsep "hiya". Dalam bahasa Tagalog, hiya berarti rasa malu atau sungkan.
Dalam budaya Filipina, rasa malu bukan hanya urusan pribadi. Perbuatan seseorang bisa ikut mencoreng nama keluarga besar, lingkungan, dan komunitasnya. Karena itu, banyak orang berusaha menghindari tindakan yang bisa membuat keluarganya ikut menanggung malu.
Akademisi Filipina Raymund Narag menilai nilai ini berperan sebagai pengendali sosial. Jika seseorang melakukan kekerasan secara membabi buta, bukan hanya dirinya yang dipandang buruk, tetapi juga keluarganya.
Ikatan keluarga dan komunitas di Filipina juga cenderung kuat. Orang yang sedang bermasalah lebih mungkin diketahui oleh keluarga, tetangga, atau lingkungan sekitar sebelum kondisinya semakin buruk. Masalah pribadi sering kali tidak sepenuhnya dianggap sebagai urusan individu, tetapi juga menjadi perhatian keluarga dan komunitas.
Hal ini berbeda dengan masyarakat yang lebih individualistis. Dalam lingkungan yang lebih tertutup, seseorang bisa menyimpan masalah sendiri tanpa diketahui orang sekitar.
Di Filipina, hubungan sosial yang dekat membuat tekanan dari keluarga dan komunitas bekerja lebih kuat.
Komunitas Jadi Rem Sosial
Sejak kecil, banyak warga Filipina diajarkan untuk mengutamakan keluarga dan hubungan sosial.
Komunitas juga punya peran besar, terutama di wilayah padat penduduk. Dalam lingkungan seperti ini, perilaku seseorang lebih mudah terlihat dan dinilai oleh orang lain.
Nilai inilah yang disebut ikut menahan munculnya kekerasan acak. Seseorang yang menggunakan senjata untuk menyerang banyak orang tanpa alasan jelas akan kehilangan dukungan komunitas. Dia juga akan membawa rasa malu bagi keluarganya.
Namun, bukan berarti faktor budaya saja cukup untuk mencegah penembakan massal. Aparat Filipina tetap memiliki protokol untuk menghadapi situasi seperti itu.
Pemerintah juga pernah mendorong peningkatan kehadiran polisi di kampus-kampus untuk mencegah perekrutan oleh kelompok bersenjata.
Meski begitu, nilai sosial seperti hiya dan kuatnya hubungan keluarga selama ini dianggap ikut membedakan Filipina dari negara lain yang lebih sering mengalami penembakan massal.
Dengan kata lain, Filipina memiliki kondisi yang cukup unik. Senjata api cukup banyak, kekerasan bersenjata juga bukan hal asing, tetapi penembakan massal acak tetap jarang terjadi.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google













































