Jakarta, CNBC Indonesia - Saham yang terkait minyak dan gas (migas) masih akan menjadi buruan pelaku pasar seiring harga minyak mentah dunia masih mendidih.
Pada Senin malam (2/3/2026), harga minyak brent terbang 7% ke US$ 77,9 per barel pada Senin sementara harga minyak WTI melonjak 6,3% ke US$ 71,23 per barel. Harga minyak kemarin adalah yang tertinggi sejak Juni tahun lalu-di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan kekhawatiran atas potensi gangguan di Selat Hormuz, jalur sempit strategis yang menangani sekitar seperlima pengiriman minyak global.
Harga minyak melejit di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan kekhawatiran pasar atas potensi gangguan distribusi melalui Selat Hormuz. jalur vital strategis yang mengalirkan sekitar seperlima pengiriman minyak global.
Sejumlah perusahaan pelayaran bahkan mulai mengalihkan rute kapal mereka sebagai langkah antisipasi terhadap risiko keamanan di kawasan tersebut.
Lonjakan harga terjadi setelah rangkaian serangan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang kemudian dibalas Teheran dengan serangan ke sejumlah target di kawasan regional.
Situasi semakin memanas ketika Saudi Aramco menghentikan sementara operasional kilang Ras Tanura, fasilitas pengolahan terbesar di Arab Saudi, guna melakukan evaluasi kerusakan pasca serangan drone yang menyasar area tersebut.
Di sisi lain, kelompok produsen minyak OPEC+ pada Minggu menyepakati kenaikan produksi sebesar 206 ribu barel per hari mulai April, sekaligus mengakhiri jeda peningkatan output yang berlangsung selama tiga bulan. Namun, tambahan pasokan ini masih lebih rendah dibandingkan rencana sebelumnya yang sempat dipertimbangkan, yakni di kisaran 411 ribu hingga 548 ribu barel per hari.
Dengan kenaikan produksi yang relatif terbatas dan ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi, pasar energi tetap berada dalam kondisi waspada, sehingga menjaga harga minyak tetap dalam tekanan naik.
Seiring dengan kenaikan harga minyak ada tiga saham emiten migas teratas yang biasanya menjadi buruan pelaku pasar, diantaranya:
Saham MEDC
PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) menjadi salah satu emiten energi yang mencuri perhatian tahun ini.
Pada kemarin Senin (2/3/2026), saham MEDC juga berhasil naik lagi lebih dari 15 % sehari ke posisi Rp1.995 per saham, menandai rekor baru sepanjang masa.
Penguatan kemarin memperpanjang tren hijau sejak awal tahun sebesar 37,59%. Meskipun sudah naik signifikan, harga saham MEDC diprediksi masih bisa lanjut menguat selama harga minyak global masih naik.
Di luar faktor harga minyak, MEDC juga memiliki sekitar 20 % kepemilikan di PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN). Anak usaha ini diproyeksikan mulai membukukan keuntungan pada 2026, sehingga berpotensi memberikan kontribusi kinerja yang lebih solid dalam beberapa tahun ke depan.
Saham ELSA
Pada kemarin Senin. saham PT Elnusa Tbk (ELSA) juga moncer, meloncar lebih dari 17 % sehari ke posisi tepat Rp1000 per lembar, menandai level tertinggi sejak IPO.
Menariknya, performa fundamental ELSA relatif tidak terlalu terpengaruh oleh fluktuasi harga minyak mentah. Hal ini karena model bisnis ELSA lebih berfokus pada jasa penunjang sektor hulu migas, seperti aktivitas drilling dan layanan pendukung produksi.
Faktor utama yang perlu dicermati dari ELSA adalah volume aktivitas pengeboran dan lifting migas di sektor hulu. Selama aktivitas tersebut tetap tinggi, pendapatan ELSA cenderung lebih stabil.
Sebagai informasi, sekitar 70 % pendapatan ELSA berasal dari satu pelanggan besar, yakni Pertamina Patra Niaga. Struktur ini membuat arus pendapatan perusahaan relatif terjaga dan bersifat berulang, sehingga memberikan visibilitas bisnis yang cukup baik di tengah volatilitas harga komoditas.
Saham ENRG
Ketiga, ada saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) juga bergerak ciamik kemarin Senin, dalam sehari berhasil terbang 25% alias mentok Auto Reject Atas (ARA) ke posisi Rp2.200 per lembar.
ENRG memiliki sejumlah katalis yang menarik untuk diperhatikan. Salah satu aset utamanya, blok Bentu, diperkirakan akan meningkatkan output produksi menjadi sekitar 86 hingga 90 mmscfd.
Selain itu, aset Sengkang juga menunjukkan perkembangan positif setelah ditemukannya wilayah eksplorasi baru. Penemuan ini berpotensi mendorong tambahan aliran produksi hingga mencapai sekitar 120 mmscfd.
Dengan potensi kenaikan produksi dari dua aset tersebut, ENRG memiliki peluang untuk memperkuat kinerja operasionalnya ke depan, terutama jika didukung oleh harga energi yang tetap solid.
Di sisi lain, ENRG juga baru saja merilis laporan keuangan sepanjang tahun lalu dengan kinerja impresif.
Sepanjang 2025, ENRG membukukan penjualan bersih sebesar US$498,13 juta. Angka ini tumbuh 6,57 % dibandingkan tahun sebelumnya.
Dari sisi profitabilitas, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat lebih tinggi, yakni naik 21,41 % secara tahunan menjadi US$91,53 juta. Artinya, pertumbuhan laba bersih ENRG lebih cepat dibanding pertumbuhan pendapatannya, yang mengindikasikan adanya efisiensi atau perbaikan margin di dalam operasional perusahaan.
ENRG sendiri merupakan perusahaan sektor hulu minyak dan gas yang berada di bawah Grup Bakrie. Kegiatan usahanya meliputi eksplorasi, pengembangan, dan produksi minyak mentah, gas bumi, serta gas cair.
Dari sisi neraca, total aset ENRG per 31 Desember 2025 tercatat sebesar US$1,82 miliar, meningkat 15,10 % dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan ini didorong oleh pertumbuhan liabilitas sebesar 7,93 % menjadi US$999,58 juta, serta kenaikan ekuitas yang lebih besar yakni 25,20 % menjadi US$822,74 juta.
Secara sederhana, struktur keuangan ENRG menunjukkan bahwa pertumbuhan modal sendiri atau ekuitas lebih tinggi dibanding pertumbuhan utang. Ini bisa menjadi sinyal positif karena memperlihatkan penguatan struktur permodalan.
Dari sisi aksi korporasi, tahun lalu ENRG mengumumkan telah menyelesaikan akuisisi penuh atas Blok Migas Kangean di Jawa Timur dari Japan Petroleum Exploration Co. Ltd (Japex).
Selain itu, ENRG juga menuntaskan divestasi 50 % participating interest di Gebang PSC, Sumatra Barat, kepada Japex. Aset Gebang ini ditargetkan mulai berproduksi tahun depan, sehingga berpotensi menambah kontribusi produksi.
Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(mae/mae)
Addsource on Google












































