Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara masih memanas.
Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Selasa (5/5/2026) ditutup di US$ 139,7 per ton atau menguat 0,36%. Penguatan ini memperpanjang tren positifnya dengan menguat 1,5% dalam dua hari.
Harga saat ini juga menjadi yang tertinggi sejak 31 Maret 2026 atau sebulan terakhir.
Harga batu bara termal yang dikirim via laut di Asia naik sebagai respons terhadap perang Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran. Namun, kenaikannya masih jauh lebih kecil dibanding lonjakan yang terjadi setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur penting energi global disebut telah memangkas sekitar 20% pasokan bahan bakar super dingin (LNG) dunia.
Sebagai perbandingan, harga batu bara termal sempat melonjak hingga 78% setelah invasi Rusia ke Ukraina, meski gangguan pasokan saat itu relatif terbatas. Lonjakan lebih banyak dipicu oleh perubahan arus perdagangan karena pembeli Barat menghindari pasokan Rusia.
China Alihkan Impor ke Batu Bara
Sejak konflik Iran pecah, impor LNG Asia, khususnya China, tertekan. China mulai mengurangi impor LNG dan beralih ke gas domestik, jaringan pipa, serta batu bara.
Pasokan LNG global sejauh ini masih cukup untuk memenuhi kebutuhan negara Asia lain, tetapi harga LNG yang naik membuat batu bara kembali lebih kompetitif.
Di Asia, batu bara termal terbagi menjadi tiga jenis utama yakni batu bara Australia kualitas tinggi (utama untuk Jepang, Korea Selatan, Taiwan), kualitas menengah (Australia/Indonesia) untuk China dan India, serta kualitas rendah Indonesia untuk China dan India.
Batu bara Australia kualitas tinggi mencatat performa terbaik sejak konflik Iran dimulai. Indeks dari Pelabuhan Newcastle pada 1 Mei naik 12,6% menjadi US$130,81 per ton dibanding sebelum perang.
Sementara itu batu bara kualitas menengah naik 11,7. Batu bara Indonesia 4.200 kcal/kg naik 11,6% ke US$61,82 per ton.
Kenaikan ini menunjukkan batu bara berkualitas tinggi unggul karena Jepang dan Korea Selatan adalah dua negara yang masih bisa beralih antara batu bara dan LNG untuk pembangkit listrik.
Jepang & Korea Belum Banyak Beralih
Data menunjukkan belum ada pergeseran besar dari LNG ke batu bara. Impor batu bara Jepang April sebanyak 7,89 juta ton (turun dari Maret, tapi masih di atas 2025). Sementara itu, impor Korea Selatan sebanyak 5,70 juta ton (naik tahunan, tapi turun bulanan).
Namun, keduanya masih berada di bawah rata-rata lima tahun, menandakan transisi bahan bakar belum signifikan.
Dengan musim panas mendekat, pasar menunggu apakah Jepang dan Korea akan lebih banyak beralih ke batu bara.
Secara ekonomi, saat harga LNG melewati US$10,24 per MMBtu di Jepang dan US$10,45 di Korea, batu bara menjadi lebih murah.
Data LSEG menunjukkan harga LNG spot Asia Utara minggu lalu di US$10,06/MMBtu, asih sedikit lebih murah dibanding batu bara.
Sementara itu, harga minyak Brent terus naik karena kekhawatiran Selat Hormuz belum akan segera dibuka. Brent ditutup di US$114,44 per barel, naik sekitar 32% dari titik terendah pascaperang.
Berdasarkan proyeksi harga Brent saat ini, LNG berbasis Brent diperkirakan bisa naik ke US$12,73/MMBtu pada awal Juli di Jepang-level yang cukup untuk mendorong peralihan dari gas ke batu bara.
(mae/mae)
Addsource on Google















































