Jakarta, CNN Indonesia --
Foto Haji Agus Salim (1884-1954) saat berdiskusi di balik meja diplomasi internasional memperjuangkan kemerdekaan masyhur di dalam buku sejarah perjuangan bangsa Indonesia.
Foto itu memperlihatkan dirinya berdiskusi dengan keponakannya Sutan Syahrir dalam sidang Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) di tahun 1947.
Bersama mereka ada pula anggota delegasi lainnya yakni Charles Tambu, Sumitro Djojohadikusumo, dan Soedjatmoko.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Indonesia saat itu sedang memperjuangkan kemerdekaan seutuhnya alias de facto dan de jure dari kolonialisme Belanda.
Di tengah 'lukisan panjang sejarah perjuangan bangsa Indonesia', pria bernama muda Masyhudul Haq Salim lalu lebih dikenal sebagai Haji Agus Salim bak pohon rimbun yang akarnya mencengkeram bumi pergerakan nasional, dan dahannya merentang jauh sampai kancah diplomasi internasional.
Namun, bukan hanya tajam berdiplomasi, Haji Agus Salim pun menjadi salah satu contoh kesederhanaan pejabat negara yang tak mau memanfaatkan kedudukan demi kekayaan pribadi.
Dia yang dijuluki 'The Grand Old Man' itu adalah menteri luar negeri ketiga Indonesia.
Pria asal Kotogadang, Agam--seperti halnya Syahrir dan pionir pers perempuan Ruhana Kudus--itu ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 27 Desember 1961 sesuai Keppres Nomor 657 tahun 1961. Dalam putusan tersebut juga menetapkan Dr. Sutomo dan KH Ahmad Dahlan menjadi Pahlawan Nasional.
Melansir dari Ensiklopedia Pahlawan Nasional, setelah lulus dari HBS (setingkat SMA di masa kolonialisme Belanda) bekerja sebagai penerjemah. Ketika dia menolak beasiswa ke Belanda dari RA Kartini, Agus Salim berkesempatan mendapat kerja sebagai pegawai di konsulat Belanda di Jeddah, Arab Saudi.
Di tuan rumah Tanah Suci Mekkah itu, Agus Salim berkesempatan memperdalam ilmu agama Islam langsung dari Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi--seorang ulama besar di Masjidil Haram.
Ketika dia kembali ke nusantara pada 1915, Agus Salim masuk Sarekat Islam yang dipimpin HOS Tjokroaminoto, dan menjadi bagian penting dalam dunia jurnalistik dan politik pergerakan.
Pada 1923, saat terjadi perpecahan di tubuh Serikat Islam akibat masuknya pengaruh ideologi komunis oleh Semaun, ia bersama Tjokoraminoto mempertahankan garis ideologi organisasi, yang kemudian melahirkan SI Putih.
Sebagai wartawan, dia merupakan pemimpin berbagai surat kabar seperti Hindia Baroe, Fadjar Asia, dan Moestika. Goresan kalimatnya tajam mengalirkan suara rakyat dan harapan merdeka dari kolonialisme Belanda.
Dia juga menjadi penasihat teknis Delegasi Serikat Buruh saat Konferensi Buruh Internasional di Jenewa, Swiss, pada 1929.
Sementara itu di nusantara, Sarekat Islam berganti nama menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSIl) pada tahun 1929. Kemudian pada 1934, Agus Salim ditunjuk jadi Ketua PSII setelah Tjokroaminoto meninggal dunia.
Agus Salim merupakan salah satu anggota dalam BPUPKI dan PPKI, dua lembaga penentu arah kemerdekaan Indonesia menjelang Proklamasi Kemerdekaan 1945. Di sana, ia turut menyumbangkan pandangan dalam penyusunan dasar negara dan bahasa kebangsaan Republik Indonesia.
Puncaknya, pada tahun 1947, dia adalah bagian dari delegasi yang mendapatkan perjanjian persahabatan dengan Mesir sebagai pengakuan de jure pertama bagi kemerdekaan Indonesia.
Haji Agus Salim wafat di Jakarta 4 November 1954 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.
Tulisan ini adalah rangkaian dari kisah ulama, tokoh, dan cendekiawan muslim Pahlawan Nasional Indonesia yang diterbitkan CNNIndonesia.com pada Ramadan 1447 Hijriah
(nat/kid)

2 hours ago
1













































