Jakarta, CNBC Indonesia - Era suku bunga turun sudah usai gara-gara tensi geopolitik di Timur Tengah yang memicu harga minyak mahal dan menjalar sampai ekspektasi inflasi ke depan memanas.
Melansir CME FedWatch Tool, suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (The Fed) sebelumnya diperkirakan akan memangkas suku bunga sekali pada tahun ini.
Namun prediksi terbaru berubah jauh, per 29 Maret 2026 pelaku pasar kini memproyeksi suku bunga akan ditahan dalam periode yang lama sampai Oktober 2027. Peluang suku bunga turun akan terjadi pada Desember 2027 dengan probabilitas 40,9%.
Foto: Fed Watch Tool
prakiraan suku bunga
Sebagai catatan, The Fed kembali mempertahankan suku bunga di level 3,50-3,75% pada 19 Maret 2026.
The Fed pada 2025 menahan suku bunga hingga Agustus 2025 di level 4,25-4,50% sebelum memangkasnya pada September, Oktober, dan Desember 2025 menjadi 3,50-3,75%. Pada Januari 2026, The Fed menahan suku bunga acuan.
Perubahan narasi suku bunga global dari turun menjadi ditahan dalam periode lama tak lain tak bukan karena perang di Timur Tengah. Kondisi seperti ini sering disebut sebagai higher for longer.
Efeknya telah menjalar ke sektor riil, beberapa negara kesulitan mendapatkan minyak imbas blokade Selat Hormuz yang sudah terjadi hampir sebulan.
Ketika jalur energi terganggu, tekanan inflasi menjadi semakin sulit dikendalikan, memaksa bank sentral untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama dari yang sebelumnya diperkirakan.
Iran dilaporkan memberlakukan blokade de facto di Selat Hormuz sebagai respons atas serangan udara besar-besaran dari Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu.
Dalam kebijakan barunya, Teheran hanya mengizinkan kapal dari negara-negara yang dianggap "bersahabat" seperti Rusia, China, India, Pakistan, dan Irak untuk melintas.
Sementara itu, kapal dari negara yang berafiliasi dengan Barat menghadapi pembatasan ketat.
Indonesia sendiri masih melakukan negosiasi intensif, dengan sinyal positif terkait potensi pembebasan beberapa kapal tanker Pertamina yang sebelumnya tertahan.
Dampaknya langsung terasa di pasar global, di mana harga minyak Brent telah menembus level $100 per barel, memicu kekhawatiran akan perlambatan ekonomi dunia.
Di sisi lain, Jepang berada dalam posisi yang semakin tertekan. Ketergantungannya yang tinggi terhadap impor energi dari Timur Tengah membuat negara tersebut harus segera mengambil langkah darurat, termasuk dengan melepaskan sebagian cadangan minyak strategisnya untuk menjaga stabilitas domestik.
Namun, tekanan politik dari sekutu G7 menempatkan Tokyo dalam dilema, antara mempertahankan hubungan dengan Barat atau membuka jalur komunikasi langsung dengan Iran demi menjamin keamanan pasokan energi.
Ketegangan juga meluas ke front lain. Kelompok Houthi di Yaman kini tidak hanya beroperasi di Laut Merah, tetapi juga memperluas jangkauan serangan ke Teluk Aden dan wilayah Israel Selatan.
Intensitas serangan rudal dan drone yang meningkat ini memperbesar risiko terhadap jalur alternatif distribusi energi, termasuk pipa darat melalui Arab Saudi.
Efeknya tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga psikologis, tercermin dari lonjakan premi asuransi pengiriman kapal hingga 300%, yang pada akhirnya mendorong kenaikan harga barang secara global.
Dengan sekitar 20% pasokan minyak dunia dan seperempat perdagangan LNG global melewati Selat Hormuz, gangguan berkepanjangan di kawasan ini berpotensi mendorong dunia ke jurang stagflasi, kombinasi antara pertumbuhan ekonomi yang melambat dan inflasi yang tetap tinggi.
Jika situasi ini terus berlanjut dalam beberapa minggu ke depan, tekanan terhadap bank sentral global akan semakin besar, tidak hanya untuk mempertahankan suku bunga tinggi, tetapi juga membuka kemungkinan pengetatan lebih lanjut guna menjaga stabilitas mata uang di tengah gejolak yang belum mereda.
Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(mae/mae)
Addsource on Google













































