REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Industri asuransi syariah dinilai memiliki peran penting dalam membantu masyarakat membangun ketahanan finansial keluarga. Di tengah berbagai risiko kehidupan, perlindungan finansial tidak lagi cukup dipahami sebagai kebutuhan masa depan, tetapi perlu menjadi bagian dari perencanaan hidup sejak dini.
Direktur Utama Allianz Life Syariah Indonesia, Elmie A. Najas, mengatakan kepemimpinan dalam industri asuransi jiwa syariah perlu dilandasi oleh prinsip purpose-led stewardship. Menurutnya, kepemimpinan bukan hanya tentang mengelola perusahaan, melainkan menjaga amanah untuk menghadirkan manfaat yang berkelanjutan bagi peserta, keluarga, masyarakat, dan generasi mendatang.
“Tujuan dasar asuransi adalah membantu masyarakat meningkatkan ketahanan finansial. Dalam asuransi syariah, tujuan ini memiliki makna yang lebih kuat karena dilandasi prinsip ta’awun, yaitu semangat tolong-menolong antarpeserta dalam menghadapi risiko kehidupan,” ujar Elmie.
Ia menjelaskan, konsep stewardship dalam kepemimpinan juga berarti memastikan strategi dan keputusan perusahaan hari ini mampu membangun bisnis asuransi syariah yang sehat dan berkelanjutan. Hal ini penting karena komitmen perusahaan asuransi kepada peserta tidak hanya berlangsung dalam jangka pendek, tetapi untuk bertahun-tahun ke depan.
Dalam konteks Allianz Syariah, Maqasid Syariah menjadi fondasi penting dalam menjalankan bisnis. Prinsip ini dipandang bukan sekadar konsep atau terminologi syariah, melainkan kompas perlindungan yang membantu perusahaan memastikan produk, layanan, inovasi, dan keputusan bisnis mampu memberikan manfaat nyata bagi peserta dan masyarakat.
“Bagi kami, Maqasid Syariah membantu membawa asuransi syariah melampaui sekadar kepatuhan, menuju bagaimana nilai-nilai syariah benar-benar menghadirkan kebaikan dan manfaat. Prinsip ini menjadi panduan dalam mengedukasi masyarakat tentang perencanaan keuangan, mengembangkan solusi dan layanan yang relevan, serta mendorong para Business Partner untuk terus meningkatkan profesionalisme dan kualitas layanan kepada peserta,” katanya.
Menurut Elmie, potensi industri asuransi syariah di Indonesia masih sangat besar. Namun, tantangannya bukan hanya pada besarnya pasar, melainkan bagaimana membuat perlindungan syariah semakin relevan, mudah dipahami, dan mudah diakses oleh masyarakat.
Ia menilai, masih banyak masyarakat yang memandang asuransi sebagai sesuatu yang baru dibutuhkan ketika risiko sudah terasa dekat. Padahal, perlindungan seharusnya dapat menjadi bagian dari perjalanan hidup, mulai dari membangun karier, menikah, membesarkan anak, hingga mempersiapkan masa pensiun.
Karena itu, tantangan industri saat ini bukan hanya meningkatkan literasi, tetapi juga mengubah literasi menjadi inklusi. Masyarakat tidak cukup hanya mengenal asuransi syariah, tetapi juga perlu memahami manfaatnya secara konkret dan memiliki akses terhadap solusi perlindungan yang sesuai kebutuhan.
Untuk menjawab tantangan tersebut, industri perlu memperluas akses melalui pengembangan tenaga pemasar dan distributor yang memahami asuransi syariah, terutama untuk produk yang membutuhkan pendampingan dalam perencanaan keuangan. Di sisi lain, digitalisasi juga perlu terus diperkuat agar masyarakat dapat memahami, memilih, dan membeli perlindungan yang lebih sederhana secara mudah dan mandiri.
Allianz Syariah sendiri resmi beroperasi sebagai entitas asuransi syariah pada 1 November 2023 setelah proses spin-off. Memasuki tahap pertumbuhan berikutnya, perusahaan berfokus memperkuat kualitas produk dan layanan, meningkatkan pengalaman peserta, mengembangkan tenaga pemasar, mempercepat transformasi digital, dan memastikan perusahaan memberikan dampak positif kepada nasabah dan masyarakat.
Hingga kuartal pertama 2026, Allianz Syariah telah melindungi lebih dari 108.000 peserta dan membayarkan klaim serta manfaat sebesar Rp 231,1 miliar. Bagi perusahaan, angka tersebut tidak hanya menjadi pencapaian bisnis, tetapi juga pengingat bahwa di balik setiap polis terdapat keluarga yang mempercayakan masa depannya kepada Allianz Syariah.
“Ke depan, kami ingin memastikan pertumbuhan Allianz Syariah tidak hanya diukur dari besarnya bisnis, tetapi dari seberapa besar manfaat yang dapat kami hadirkan dalam membantu masyarakat membangun ketahanan finansial di setiap fase kehidupan,” ujar Elmie.
Ia menambahkan, kepercayaan masyarakat terhadap asuransi syariah harus dibangun melalui pengalaman yang konsisten. Nilai seperti amanah, kejujuran, transparansi, dan universalitas perlu tercermin dalam setiap interaksi dengan peserta, mulai dari edukasi, konsultasi, pembelian, layanan, hingga pembayaran klaim.
“Bagi kami, keberhasilan perusahaan asuransi bukan hanya ketika berhasil menjual polis, tetapi ketika peserta merasa tenang karena mengetahui ada perlindungan yang benar-benar dapat diandalkan untuk membantu mereka dan keluarganya ketika risiko terjadi,” katanya.

6 hours ago
3

















































