Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memulai berbagai riset kratom terutama penggunaannya secara tradisional dan aktivitasnya secara farmakologis. Dari penelitian yang dilakukan ditemukan bahwa kratom menunjukkan dua inflamasi yaitu di alkaloid dan ekstrak yang menyuguhkan efek analgesik. Soal keamanan dan potensi kecanduan, WHO masih melakukan penelitian atau mengkaji bagaimana sifat kecanduan dari kratom tersebut.
"Saat ini sedang dilakukan proses pengujian kratom untuk obat diabetes dengan uji in vivo dan in vitro. Secara empiris pun didapat data dari beberapa teman di Kalimantan yang mempunyai riwayat diabetes dan mengkonsumsi kratom, ternyata level glukosanya menjadi rendah dan kondisinya menjadi lebih bagus dibandingkan sebelum mengkonsumsi kratom," jelas Masteria Yunovilsa Putra Kepala Pusat Riset Vaksin dan Obat, Organisasi Riset Kesehatan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dikutip dari laman BRIN, Kamis (14/5/2026).
Penelitian itu dipublikasikan dalam BRIN Insight Every Friday (BRIEF) edisi 133 dengan tema Kratom: Traditional Uses vs Modern Applications pada September 2024 lalu.
Daun Kratom menjadi populer di kalangan masyarakat karena isu terkait manfaat kesehatan serta kontroversinya. Tanaman yang berasal dari Asia Tenggara termasuk Indonesia ini, salah satunya digunakan untuk keperluan medis tradisional. Melalui Kementerian Perdagangan, Pemerintah Indonesia secara resmi mengatur kebijakan penanganan, pemanfaatan, dan perdagangan kratom yang tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 20 tahun 2024.
"Kratom atau mitragyna speciosa merupakan tanaman endemik di Asia Tenggara terutama di wilayah Malaysia, dan Indonesia habitatnya mayoritas di Kalimantan, serta terdapat juga di beberapa daerah di Thailand. Umumnya kratom diekspor ke Amerika dan Eropa," jelas Masteria.
Kratom merupakan tumbuhan Rubiaceae satu keluarga dengan kopi. Nama lokalnya antara lain purik, ketum di Kalimantan Barat, kedamba, kedemba di Kalimantan Timur. Terdapat beberapa tipe daun dari Kratom ini, yaitu kratom yang memiliki urat daun berwarna hijau dan merah.
Masteria melanjutkan, penggunaan kratom secara tradisional dikonsumsi langsung daun keringnya, atau diseduh dengan air panas, dan diminum sebagai teh.
Foto: Tanaman Kratom. (AP Photo)
"Kratom dipercaya dapat mengobati infeksi usus, nyeri otot, batuk, diare, serta dapat meningkatkan energi dan suasana hati atau mood booster. Pada abad ke-19, di Malaysia dan Thailand para pecandu opium menggunakan kratom untuk mengatasi kecanduan," terangnya.
Senyawa kratom pertama kali diisolasi oleh Hooper pada tahun 1921, dan risetnya berlangsung sejak 103 tahun yang lalu, bahkan sampai saat ini masih menjadi kontroversi. Pada salah satu paper Journal of The Chemical Society Transactions pada 1921 mengatakan Ellen Field mengisolasi senyawa mitragynine dan mitraversine dari Mitragyna speciosa. Dia menyebutkan kratom digunakan untuk pengobatan pada kecanduan opium dan anestesi lokal.
"Setidaknya terdapat 40 jenis senyawa alkaloid dalam daun kratom, 5 senyawa utamanya yaitu mitragynine, paynantheine, speciogynine, 7-hydroxymitragynine dan speciocilatine dengan kandungan senyawa yang bervariasi di setiap daerah, yaitu antara 50 hingga 70%. Senyawa yang paling banyak diteliti sifat-sifat analgesik serta adiksinya adalah Mytraginine dan 7-hydroxymitragynine. Kedua senyawa ini juga menjadi senyawa tunggal untuk diteliti potensinya sebagai analgesik, inflamasi, serta untuk kanker," paparnya.
Pada tahyn 2021, WHO Expert Committee on Drug Dependence (ECDD) melakukan pre-review atas dampak kesehatan kratom. Kesimpulan dari mereka, tidak ada cukup bukti untuk dilanjutkan ke tahap critical review, namun tetap dilakukan surveilans oleh WHO.
"Riset kratom yang telah dilakukan di Pusat Riset Vaksin dan Obat BRIN hingga saat ini meliputi standarisasi ekstrak alkaloid, studi in vitro yang terdiri dari aktivitas antioksidan dalam sel. Kemudian aktivitas anti inflamasi ganda serta adjuvant untuk terapi kanker, dan studi in vivo yang meliputi aktivitas analgesik, putus obat/withdrawal effect serta tes toksisitas akut oral," ujarnya.
Menurutnya, ekstrak kratom memiliki sifat antioksidan yang mampu melindungi sel dari radikal bebas seperti spesies oksigen reaktif (ROS) dan oksida nitrat. Ekstrak kratom berupa ekstrak kasar dan alkaloid memiliki aktivitas anti inflamatori melalui potensi penghambat-NSAID COX-2 dan 5-LOX. Dengan efek samping yang lebih sedikit dan dapat digunakan sebagai adjuvant terapi kanker.
"Ekstrak kratom memiliki efek analgesik in vitro dan in vivo. Studi in vivo kami menunjukkan dalam dosis tertentu alkaloid kratom memiliki efek analgesik dua kali lipat lebih tinggi, daripada ekstrak kasar," kata Masteria.
Lebih lanjut, Masteria membeberkan kratom alkaloid yang diberikan secara kronis dengan dosis yang ditingkatkan menginduksi lebih sedikit gejala putus obat (withdrawal effect) dibandingkan dengan kelompok morfin.
"Selain itu, alkaloid kratom saat digunakan untuk mengobati kelompok yang diobati morfin cenderung mengurangi gejala putus obat," pungkas Masteria.
(wur/wur)
Addsource on Google












































