Di Xinjiang, Danau Surgawi Menjaga Sunyi

4 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Seekor rusa merah Tianshan menundukkan kepala di bawah naungan cemara. Ia mengunyah rumput dengan tenang, seolah tak terganggu oleh langkah wisatawan yang menyusuri hutan di sekitarnya.

Tak jauh dari sana, air berwarna biru kehijauan terbentang di antara pegunungan. Permukaannya tenang, seperti lembaran giok yang sengaja diletakkan di kaki gunung.

Inilah Tianchi, danau yang oleh masyarakat Tiongkok disebut sebagai “Danau Surgawi”. Ia berada di Lembah Gunung Bogda, bagian dari Pegunungan Tianshan, sekitar 110 kilometer dari Urumqi, ibu kota Xinjiang.

Namun Xinjiang bukan sekadar cerita tentang sebuah danau yang tenang. Wilayah ini adalah ruang geografis raksasa tempat gunung bersalju, gurun terik, padang rumput, hutan, dan danau bertemu dalam satu bentang alam.

Luas Xinjiang mencapai 1,66 juta kilometer persegi. Wilayah administratif terluas di Tiongkok itu mencakup hampir seperenam total daratan Negeri Tirai Bambu.

Di sana pula geopolitik dunia kerap beradu. Daerah yang bernama lengkap Daerah Otonomi Uighur Xinjiang ini berulang kali menjadi sorotan lembaga-lembaga hak asasi manusia internasional terkait perlakuan terhadap warga etnis Uighur dan komunitas Muslim lainnya.

Beijing membantah tuduhan-tuduhan tersebut dengan tegas. Perdebatan mengenai Xinjiang pun terus bergerak jauh melampaui batas-batas wilayah tersebut.

Berdasarkan sensus 2020, etnis Uighur merupakan kelompok penduduk terbesar di Xinjiang. Populasinya mencapai 11,62 juta jiwa atau sekitar 44,96 persen dari total penduduk.

Namun, di balik perdebatan politik yang tak pernah benar-benar reda, Xinjiang memiliki wajah lain yang lebih sunyi. Wajah itu dibentuk oleh gunung, pasir, hutan, dan air.

Tiga Gunung, Dua Cekungan

Jika dilihat melalui struktur geografisnya, Xinjiang seperti dirancang dalam ukuran raksasa. Tiga rangkaian pegunungan mengapit dua cekungan besar yang membentuk karakter kawasan ini.

Di utara berdiri Pegunungan Altai dan Cekungan Junggar. Di tengah cekungan itu terbentang Gurun Gurbantünggüt, gurun pasir terbesar kedua di Tiongkok.

Di selatan terdapat Pegunungan Kunlun yang menjadi batas Xinjiang dengan Dataran Tinggi Tibet. Tidak jauh dari sana membentang Cekungan Tarim yang menyimpan Gurun Taklamakan, gurun pasir terbesar di Tiongkok.

Di antara utara dan selatan, Pegunungan Tianshan membentang dari barat ke timur. Rangkaian pegunungan itu membelah Xinjiang menjadi dua bagian besar, utara dan selatan.

Di salah satu bagian Pegunungan Tianshan itulah sebuah danau berdiam. Namanya telah hidup dalam lanskap sekaligus mitologi Tiongkok selama berabad-abad: Danau Tianchi.

Air yang Berubah Warna

Perjalanan menuju Tianchi membawa pengunjung ke wilayah administratif Kota Fukang. Danau itu berada di ketinggian sekitar 1.910 hingga 1.980 meter di atas permukaan laut.

Bentuknya menyerupai bulan sabit dengan luas sekitar 4,9 kilometer persegi. Pada bagian terdalam, kedalamannya mencapai sekitar 105 meter.

Tetapi angka-angka itu segera kehilangan dominasi ketika seseorang berdiri di tepian danau. Mata terlebih dahulu ditangkap oleh warna air yang berubah mengikuti cahaya.

Dalam satu sudut, Tianchi terlihat hijau muda seperti giok. Pada sudut lain, warna itu berubah menjadi hijau toska dengan latar deretan gunung, cemara, dan pinus.

Keindahan itu justru dijaga dengan sejumlah larangan. Pengunjung tidak diperbolehkan berenang ataupun memancing di perairan Tianchi.

“Pengunjung tidak boleh berenang atau memancing ikan di sini. Pengunjung cukup menikmati keindahan danau dari tepi atau berlayar menggunakan kapal listrik yang telah disediakan,” kata Kepala Seksi Ekologi dan Lingkungan Hidup Komite Manajemen Danau Tianshan, He Xianglan, saat ditemui ANTARA di kawasan Danau Tianshan, Sabtu (29/8).

Tianchi dengan demikian tidak ditawarkan sebagai tempat yang harus ditaklukkan. Danau itu lebih banyak meminta pengunjung untuk melihat, berjalan, dan menikmati.

sumber : Antara

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research