REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Daya beli menurun disinyalir menjadi alasan penerimaan pajak tidak mencapai target. Di Jawa Tengah, Kepala Bidang Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) di Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Provinsi Jawa Tengah, Danang Wicaksono, mengungkapkan, realisasi penerimaan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) di Jateng pada 2025 anjlok.
Dia mengatakan, hal itu terjadi karena pembelian kendaraan bermotor di Jateng mengalami penurunan signifikan. Danang mengungkapkan, realisasi penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) di Jateng pada 2025 mencapai Rp3,96 triliun.
"Dari sisi persentase, dari target sebesar Rp4,11 triliun, artinya tercapai 95,31 persen," ucapnya ketika diwawancara, Kamis (8/1/2026).
Sementara penerimaan BBNKB mengalami penurunan tajam pada 2025. "Yang drop cukup dalam dari BBNKB. Jadi dari target yang seharusnya masuk Rp2,5 triliun, kendaraan baru yang dibeli masyarakat BBNKB-nya sebesar Rp1,7 triliun. Artinya defisit Rp787 miliar," ungkap Danang.
Jika dibandingkan dengan tahun 2024, penerimaan BBNKB di Jateng pada 2025 juga mengalami penurunan. Karena pada 2024, perolehan BBNKB di Jateng, setelah dikurang bagi hasil, mencapai Rp2,1 triliun. Danang menerangkan, menyusutnya pembelian kendaraan bermotor menjadi faktor merosotnya penerimaan BBNKB di Jateng.
"Memang kondisi perekonomiannya tidak mendukung ke kondisi yang tidak kita harapkan. Jadi pembelian kendaraan bermotor se-Indonesia turun semua," ujar Danang.
Dia mengungkapkan, terdapat beberapa daerah di Jateng yang penerimaan BBNKB-nya mengalami minus, antara lain Kabupaten Purbalingga (-0,07 persen), Kabupaten Purworejo (-1,17 persen), Kabupaten Temanggung (-2,67 persen), dan Kabupaten Wonogiri (-3,17 persen).
"Ini daerah selatan (Jateng) semua," ujarnya.
Menurut Danang, dari keempat daerah tersebut, Temanggung menjadi yang kentara untuk diamati. "Kenapa kok pembelian (kendaraan bermotor) mereka turun? Temanggung itu kan sangat bergantung pada pembelian tembakau. Sementara satu perusahaan rokok besar kan tidak melakukan pembelian (tembakau) selama dua hingga tiga tahun ini. Maka efeknya cukup besar buat Temanggung," ucapnya.
Sepengetahuan Danang, pada masa panen tembakau, pembelian kendaraan bermotor di Temanggung biasanya mengalami peningkatan. "Nah, sekarang dengan panennya oke tapi penjualannya tidak oke, efeknya kan masyarakat tidak bisa konsumtif, ya tidak beli kendaraan," kata dia.
Danang mengungkapkan, pada 2026, Bapenda Jateng menargetkan penerimaan dari PKB sebesar Rp4,5 triliun. Sementara dari BBNKB sebesar Rp2,1 triliun.
sumber : antara

20 hours ago
5













































