Jakarta, CNBC Indonesia - Polusi plastik yang membahayakan kesehatan manusia menemukan titik terang setelah sebuah penelitian terbaru mengungkapkan kemampuan luar biasa dari pohon kelor atau moringa yang dijuluki sebagai "pohon ajaib". Tanaman yang identik dengan hal mistis di Indonesia itu, dikenal kaya nutrisi ini terbukti sangat efisien dalam menghilangkan kandungan mikroplastik dari air minum.
Mengutip laporan CNN International, tim ilmuwan dari Brasil dan Inggris menemukan bahwa ekstrak biji dari pohon yang tumbuh cepat ini memiliki efektivitas yang setara dengan bahan kimia komersial dalam menyaring mikroplastik. Penelitian yang diterbitkan pada April 2026 ini menunjukkan potensi besar penggunaan bahan alami sebagai pengganti koagulan kimia di sistem pengolahan air.
Adriano Gonçalves dos Reis, penulis studi sekaligus profesor di Institut Sains dan Teknologi Universitas Negeri São Paulo, menjelaskan bahwa pohon kelor sebenarnya telah digunakan untuk memurnikan air selama ribuan tahun oleh bangsa Yunani, Romawi, dan Mesir kuno. Bersama koleganya, dos Reis telah meneliti biji kelor selama satu dekade sebagai "koagulan" alami yang mampu membuat partikel kecil dalam air saling menempel sehingga mudah disaring.
"Benda itu sangat kecil sehingga saya tidak bisa memastikannya, namun mikroplastik telah ditemukan di mana-mana mulai dari laut dalam hingga gunung yang menjulang tinggi," ujar laporan tersebut menyoroti bahaya partikel yang dapat mengontaminasi tubuh manusia, termasuk otak dan sistem reproduksi, dikutip Kamis (30/4/2026).
Dalam studi spesifik ini, para peneliti memfokuskan pengujian pada mikroplastik jenis PVC yang dikenal sebagai salah satu yang paling berbahaya dan lazim ditemukan dalam air keran. Mereka menguji partikel berukuran rata-rata 18,8 mikrometer-sekitar seperempat ketebalan rambut manusia-dan menemukan hasil yang mencengangkan dalam sistem filtrasi.
"Ekstrak biji kelor 98,5% efektif menghilangkan mikroplastik dari air keran saat digunakan dalam sistem filtrasi," kata Gonçalves dos Reis menjelaskan efisiensi yang sebanding dengan aluminium sulfat atau tawas yang biasa digunakan di instalasi pengolahan air.
Keunggulan utama penggunaan biji kelor dibandingkan tawas adalah sifatnya yang terbarukan, mudah terurai secara hayati, dan tidak menghasilkan limbah lumpur dalam jumlah besar. Selain itu, penggunaan biji alami ini mengurangi risiko toksisitas karena aluminium dalam kadar tinggi sering dikaitkan dengan penyakit neurodegeneratif.
Matthew Campen, profesor ilmu farmasi dari University of New Mexico Health Sciences Center, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, memberikan pandangannya mengenai nilai ekonomis dari penemuan ini. Menurutnya, mengganti sistem filtrasi berbasis aluminium dengan produk alami dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan.
"Menggunakan produk alami untuk mengganti sistem filtrasi berbasis aluminium mungkin menawarkan solusi yang lebih murah dan berkelanjutan untuk penghilangan mikroplastik PVC," kata Campen.
Meski demikian, penelitian ini masih memiliki batasan dalam skala besar karena satu biji kelor hanya mampu mengolah sekitar 10 liter air. Hal ini berarti dibutuhkan jumlah biji yang sangat masif untuk instalasi pengolahan air di perkotaan besar yang memiliki aliran air sangat tinggi.
"Meskipun ini menjanjikan, hal ini akan membutuhkan jumlah biji yang sangat besar untuk instalasi pengolahan perkotaan besar. Teknik ini mungkin paling berguna untuk komunitas kecil atau tempat-tempat di mana koagulan kimia sulit diakses," tambah Gonçalves dos Reis.
Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memahami bagaimana ekstrak biji kelor terurai, apa yang terjadi pada PVC yang tertangkap, serta efektivitas biaya metode ini jika diterapkan secara massal. Campen menekankan pentingnya menemukan solusi mikroplastik sekarang karena paparan manusia terhadap partikel plastik diprediksi tidak akan berubah hingga beberapa dekade ke depan.
Sementara itu, di Indonesia, tanaman kelor sudah mulai dibudidayakan untuk kepentingan ekonomi baik di pedesaan maupun perkotaan. Menurut data LPEI di Januari hingga September 2024, ekspor berbasis kelor memiliki volume 4.350 ton dengan nilai US$ 13,75 juta, dengan pasar utama RI ke China, Malaysia, Jepang, dan Timur Tengah.
(sef/sef)
Addsource on Google














































