REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Intensitas curah hujan menengah hingga tinggi sepanjang Januari–Maret 2026 memicu sedimentasi ulang di sejumlah sawah terdampak banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Kondisi ini memperlambat proses rehabilitasi lahan yang tengah dikebut pemerintah untuk menjaga produksi pangan daerah.
Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementerian Pertanian, Hermanto, menyampaikan, curah hujan yang masih tinggi menjadi tantangan utama dalam percepatan pemulihan sawah terdampak bencana. Endapan lumpur yang sebelumnya telah diangkat kembali menutup lahan akibat aliran air hujan dan luapan sungai.
“Tantangan saat ini adalah curah hujan yang masih cukup tinggi di sejumlah desa di Aceh, Sumut, dan Sumbar. Lahan yang sebelumnya sudah dipersiapkan untuk pengangkatan endapan lumpur kembali tersedimentasi akibat aliran air hujan dan luapan sungai,” kata Hermanto di Jakarta, dikutip pada Senin (16/2/2026).
Menurut Hermanto, sedimentasi baru memaksa tim teknis melakukan penyesuaian strategi di lapangan. Lahan yang semula siap dibersihkan harus dievaluasi ulang untuk menghitung tambahan material endapan.
“Karena itu, kami akan melakukan survei ulang untuk mengidentifikasi endapan baru yang berpotensi memengaruhi biaya penanganan, termasuk pembuangan sedimen di lahan dan saluran irigasi,” ujarnya.
Kementerian Pertanian tetap melanjutkan program rehabilitasi dengan alokasi anggaran sekitar Rp336 miliar. Dana tersebut difokuskan untuk memulihkan sawah dengan tingkat kerusakan ringan hingga sedang agar kembali berproduksi dalam waktu dekat.
Program ini merupakan tindak lanjut groundbreaking yang digelar pada 15 Januari 2026 dan menjadi bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan nasional di tengah risiko cuaca ekstrem. Intervensi dilakukan berdasarkan tingkat kerusakan, mulai dari optimasi lahan untuk kategori ringan hingga rehabilitasi khusus pada lahan rusak sedang dan berat, termasuk perbaikan jaringan irigasi.
Sesuai arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, pemerintah menargetkan optimasi lahan seluas 32 ribu hektare pada sawah terdampak bencana. Adapun rehabilitasi khusus lahan sawah terdampak banjir mencakup 9,9 ribu hektare dengan tahapan penyusunan rancangan teknis, konstruksi, hingga olah lahan.
Saat ini, tiga provinsi tersebut masih menyusun dokumen rancangan teknis melalui kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi. Sejumlah daerah juga menyesuaikan anggaran untuk mengantisipasi tambahan biaya akibat dinamika sedimentasi di lapangan.

1 week ago
8











































