Bocoran Rencana '6 Perang' China: Dunia di Ambang Kiamat Geopolitik?

3 hours ago 1

Pesawat Chengdu J-10C buatan China.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, sebuah narasi lama kembali mencuat ke permukaan: rencana “enam perang” China. Wacana yang sempat beredar lebih dari satu dekade lalu itu kini kembali dibicarakan, seiring eskalasi tekanan Beijing terhadap Taiwan dan meningkatnya kekhawatiran akan konflik besar di kawasan Asia-Pasifik.

Istilah “enam perang” merujuk pada spekulasi mengenai serangkaian konflik yang disebut-sebut akan dihadapi China dalam beberapa dekade ke depan, terutama untuk memperluas pengaruh dan mengamankan sumber daya strategis. Meski tidak pernah dikonfirmasi secara resmi oleh pemerintah Beijing, gagasan ini berulang kali muncul dalam diskursus media dan analisis geopolitik internasional.

Dalam konteks terkini, Taiwan menjadi titik paling krusial. Pulau yang diperintah secara demokratis itu dianggap Beijing sebagai bagian dari wilayahnya, dan China tidak pernah menutup kemungkinan penggunaan kekuatan untuk melakukan “reunifikasi”. Latihan militer yang kian intens di sekitar Taiwan memperkuat sinyal bahwa ketegangan tidak lagi sekadar retorika, sebagaimana ditulis Victor Biryukov dalam artikel yang dimuat Topwar.ru.

Presiden Taiwan Lai Ching-te bahkan memperingatkan bahwa jika Taiwan jatuh ke China, ambisi ekspansionis Beijing tidak akan berhenti di situ. Jepang, Filipina, dan negara-negara lain di kawasan Indo-Pasifik disebut berpotensi menjadi target berikutnya dalam skenario konflik yang lebih luas.

Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar. Jepang telah menyatakan akan mempertimbangkan intervensi militer jika Taiwan diserang, sementara Filipina, yang memiliki hubungan pertahanan erat dengan Amerika Serikat, juga mengisyaratkan kemungkinan keterlibatan dalam konflik. Jika skenario ini terjadi, maka potensi perang regional yang melibatkan banyak negara menjadi sulit dihindari.

Namun di sisi lain, sejumlah analis menilai China belum berada pada posisi untuk melancarkan konflik besar dalam waktu dekat. Secara ekonomi dan teknologi, Beijing masih berupaya mengejar ketertinggalan dari Amerika Serikat dan sekutunya. Strategi yang selama ini ditempuh lebih condong pada pendekatan hati-hati, memperkuat posisi tanpa memicu konfrontasi langsung.

Pendekatan ini sering disebut sebagai strategi “menunggu di pantai”, sebuah metafora yang menggambarkan sikap China yang memilih mengamati dinamika global sambil terus memperkuat kapasitasnya. Dalam kerangka ini, konflik terbuka dinilai sebagai opsi terakhir, bukan langkah utama.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research