Benarkah Imunisasi/Vaksin Picu Autisme Anak? Ini Penjelasan Dokter

1 hour ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Maraknya hoaks dan mitos seputar vaksin mengancam kesehatan jutaan anak Indonesia. Mereka dalam posisi yang sangat rentan karena terancam cacat permanen lantaran belum menerima imunisasi/vaksin lengkap. 

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, Dr. dr. Rodman Tarigan Sp.A, Subsp.Kardio(K) menyoroti masalah hoaks yang membuat masih banyak orang tua terjebak dalam informasi menyesatkan, seperti anggapan vaksin berbahaya, menyebabkan autisme, hingga mengandung mikrochip, padahal semua klaim tersebut tidak memiliki dasar ilmiah.

"Produksi vaksin diawasi sangat ketat, tidak mungkin ada hal seperti itu," tegasnya dalam diskusi bersama media bertema Mitos dan Fakta Mengenai Vaksin' dalam rangka Pekan Imunisasi Vaksin secara daring, Selasa (5/5/2026).

Ia juga menyoroti fenomena bias kognitif, di mana orang lebih mudah percaya pada cerita negatif yang viral dibandingkan fakta ilmiah yang sebenarnya. Anggapan lain yang sering muncul adalah vaksin tidak diperlukan jika anak sudah menjalani pola hidup sehat.

Tapi Rodman menekankan, itu adalah hal keliru. Nutrisi, vitamin, dan gaya hidup sehat memang penting, kata ia, tetapi tidak bisa menggantikan fungsi vaksin yang bekerja secara spesifik melawan penyakit tertentu.

Ia juga mengingatkan risiko serius jika anak tidak mendapatkan imunisasi lengkap. Infeksi penyakit bisa menyebabkan komplikasi berat seperti radang paru, gangguan otak, hingga kecacatan permanen.

Dalam banyak kasus, anak yang tidak divaksin lebih rentan mengalami infeksi berulang dengan dampak jangka panjang terhadap tumbuh kembangnya. Meski tidak menjamin seseorang bebas sakit sepenuhnya, vaksin terbukti mengurangi tingkat keparahan penyakit, mempercepat pemulihan, dan menurunkan risiko komplikasi.

"Kalau pun sakit, biasanya gejalanya jauh lebih ringan dibandingkan yang tidak divaksin," jelasnya.

dr. Rodman pun mengingatkan pentingnya menjaga generasi agar tetap sehat. Mengutip ayat suci Alquran dalam Surat An-Nisa ayat 9, masyarakat diimbau untuk tidak meninggalkan keturunan dalam kondisi lemah.

"Jangan sampai kita meninggalkan generasi yang lemah, agar anak-anak tumbuh sehat secara fisik, mental, dan terbebas dari penyakit menuju generasi Indonesia 2045 yang lebih kuat," kata ia.

Isu halal dan haram vaksin

Selain mitos dan hoaks, isu halal dan haram masih menjadi salah satu alasan utama sebagian orang tua ragu memberikan vaksin kepada anak di banyak daerah di Indonesia. Dari sisi medis dan keagamaan, ada aturan jelas yang perlu dipahami.

Rodman menjelaskan, hukum vaksinasi telah diatur dalam fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI). Dalam fatwa tersebut, vaksin pada dasarnya mubah atau diperbolehkan sebagai upaya melindungi kesehatan.

"Prinsipnya, vaksin harus halal dan suci. Namun dalam kondisi tertentu, penggunaannya bisa diperbolehkan bahkan menjadi wajib," ujarnya.

Ia merinci, penggunaan vaksin berbahan yang belum halal dapat diperbolehkan jika berada dalam kondisi darurat atau mendesak, semisal ketika tidak ada alternatif lain dan penyakit berisiko mengancam jiwa. Dalam kondisi seperti itu, kata ia, imunisasi justru bisa menjadi kewajiban.

Sebaliknya, jika terbukti menimbulkan bahaya berdasarkan penilaian medis, vaksin tidak dianjurkan. Namun hingga saat ini, vaksin yang digunakan telah melalui pengawasan ketat dan dinyatakan aman.

Rodman menegaskan, imunisasi telah terbukti menyelamatkan jutaan nyawa. Vaksin tidak hanya mencegah penyakit, tetapi juga menurunkan angka kematian serta meningkatkan kualitas hidup anak.

Data menunjukkan, imunisasi rutin mampu mencegah ratusan juta kasus infeksi, puluhan juta rawat inap, hingga sekitar satu juta kematian akibat penyakit yang sebenarnya bisa dicegah. Namun di Indonesia, sejumlah penyakit seperti campak, pertusis, hingga pneumonia masih terus muncul dengan angka yang fluktuatif setiap tahun.

(hsy/hsy)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research