Jakarta, CNBC Indonesia - Banyak pernikahan berakhir setelah sekitar delapan tahun. Data biro sensus menunjukkan, rata-rata usia pernikahan pertama yang berujung perceraian mencapai 8,2 tahun, sejalan dengan istilah populer "seven-year itch".
Namun, mengapa justru sekitar tujuh hingga delapan tahun, bukan 10 atau 15 tahun?
Melansir Psychology Today, Kamis (9/4/2026), para peneliti seperti Daniel Levinson, George Vaillant, dan Gail Sheehy menjelaskan, perkembangan orang dewasa cenderung bergerak dalam siklus sekitar tujuh tahunan.
Dalam siklus tersebut, seseorang biasanya mengalami periode stabil selama beberapa tahun, lalu diikuti fase kegelisahan dan transisi selama dua hingga tiga tahun sebelum memasuki tahap kehidupan berikutnya. Perubahan ini bisa berkaitan dengan karier, rencana jangka panjang, penuaan, hingga hubungan dengan pasangan.
Di awal hubungan, seseorang biasanya memiliki kebutuhan psikologis tertentu, misalnya ingin mandiri dari orang tua, mencari stabilitas, memiliki anak, atau merasa dicintai. Tanpa disadari, pasangan menjadi sosok yang memenuhi kebutuhan tersebut, membentuk semacam "kesepakatan tidak tertulis" dalam hubungan.
Pada tahun-tahun awal pernikahan, pasangan kemudian membangun kehidupan bersama melalui aturan dan rutinitas. Mulai dari pembagian tugas rumah tangga, pola interaksi keluarga, hingga hubungan intim. Tahap ini menciptakan stabilitas, meski tidak semua pasangan berhasil melewatinya tanpa konflik.
Masalah umumnya mulai muncul pada tahun kelima hingga kedelapan. Salah satu atau kedua pasangan mulai merasa gelisah. Kehidupan yang sebelumnya terasa nyaman kini justru tidak lagi sesuai.
Hal ini terjadi karena kebutuhan yang dulu sudah terpenuhi kini berubah. Namun, pasangan tetap terjebak dalam pola kehidupan lama yang telah mereka bangun. Bahkan, sifat pasangan yang dulu dianggap menarik bisa berubah menjadi sumber konflik, yang stabil dianggap kaku, yang spontan dianggap terlalu berlebihan.
Di fase inilah muncul yang dikenal sebagai "seven-year itch". Pasangan mulai sering bertengkar, menjauh secara emosional, atau bahkan terlibat perselingkuhan. Pesan yang muncul biasanya sama: hubungan ini tidak lagi berjalan, dan salah satu pihak ingin memulai kembali dari awal.
Sebagian pasangan memilih bercerai, lalu beberapa tahun kemudian menikah lagi dan mengulangi siklus yang sama. Namun, ada juga yang tidak memilih konflik terbuka.
Mereka justru menghindari masalah dengan mengalihkan fokus pada hal lain, seperti anak, pekerjaan, atau aktivitas lain. Dalam kondisi ini, hubungan berubah dari pasangan menjadi sekadar peran sebagai orang tua atau individu yang sibuk dengan karier.
Strategi ini bisa bertahan beberapa tahun, tetapi tidak menyelesaikan akar masalah. Ketika fase kehidupan berikutnya datang, misalnya anak mulai remaja atau karier mencapai titik jenuh, perasaan gelisah dan terjebak bisa muncul kembali, bahkan memicu krisis paruh baya.
Meski terdengar negatif, kondisi ini sebenarnya tidak selalu berujung pada perceraian. Kuncinya adalah menyadari perubahan kebutuhan dalam hubungan dan menggunakannya sebagai bahan evaluasi.
Pasangan tidak harus memulai dari awal, tetapi bisa memperbarui "kontrak" hubungan yang terbentuk sejak awal. Misalnya dengan membangun kerja sama yang lebih seimbang, meningkatkan komunikasi, menyesuaikan gaya hidup, serta memperkuat kedekatan emosional dan fisik.
Jika sulit dilakukan sendiri, bantuan dari pihak ketiga seperti terapis atau konselor dapat membantu pasangan melewati fase ini.
Dan fase tujuh hingga delapan tahun dalam pernikahan merupakan titik penting dalam kehidupan psikologis. Cara pasangan meresponsnya akan menentukan apakah hubungan dapat berkembang atau justru berakhir.
(hsy/hsy)
[Gambas:Video CNBC]









































