Bank Aladin Syariah Nilai Digitalisasi Kunci Tingkatkan Inklusi

23 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTABank Aladin Syariah sebagai bank digital optimistis dapat membantu mendorong peningkatan inklusi keuangan syariah di Indonesia, terutama di tengah tantangan geografis dan masih rendahnya tingkat inklusi syariah nasional.

Presiden Direktur Bank Aladin Syariah Koko T Rachmadi mengatakan, karakter Indonesia sebagai negara kepulauan membuat akses layanan keuangan belum merata. Menurut dia, digitalisasi membuka peluang untuk menjangkau masyarakat yang selama ini sulit dilayani oleh perbankan konvensional berbasis kantor fisik.

“Indonesia itu negara kepulauan dengan tantangan akses yang luar biasa. Digitalisasi menjadi salah satu solusi untuk menjangkau masyarakat yang selama ini sulit dilayani,” kata Koko saat berbincang dengan media, di Jakarta, Kamis (8/1/2026).

Ia menilai perbankan digital memungkinkan masyarakat mengakses layanan keuangan syariah secara lebih mudah dan cepat, sekaligus berpotensi mendorong peningkatan literasi dan inklusi keuangan. Hal ini dinilai relevan mengingat data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 mencatat tingkat literasi keuangan syariah sebesar 43,42 persen, sementara tingkat inklusinya masih 13,41 persen.

Menurut Koko, definisi inklusi keuangan syariah juga perlu diperluas. “Inklusi syariah tidak seharusnya hanya diukur dari kepemilikan rekening bank syariah. Pengguna layanan pegadaian syariah atau multifinance syariah juga seharusnya masuk dalam cakupan inklusi,” ujarnya.

Dalam konteks tersebut, kemudahan pembukaan rekening melalui kanal digital dinilai dapat menjadi salah satu pintu masuk bagi masyarakat untuk mulai terhubung dengan layanan keuangan syariah. “Dengan sistem digital, masyarakat bisa membuka rekening dengan lebih sederhana,” kata Koko.

Keyakinan tersebut ditopang oleh kinerja Bank Aladin sepanjang 2025. Perseroan mencatat pertumbuhan nasabah aktif lebih dari 30 persen secara tahunan (yoy), yang turut mendorong kenaikan aset hingga menembus Rp10 triliun. Hingga November 2025, total aset Bank Aladin tercatat mencapai Rp14,2 triliun.

Koko menyampaikan capaian tersebut mencerminkan meningkatnya minat masyarakat terhadap layanan perbankan digital syariah, sekaligus mengindikasikan mulai menguatnya model bank syariah berbasis teknologi di pasar domestik. Namun, ia menegaskan fokus utama perseroan tetap pada penguatan fundamental bisnis.

“Tahun 2025 ini kita tutup dengan performa yang Alhamdulillah menggembirakan. Kita cukup sehat sebagai bank dan masih bisa bertumbuh,” ujarnya.

Untuk menjaga tren pertumbuhan, Bank Aladin mengembangkan sejumlah program yang diarahkan pada kedekatan dengan nasabah. Salah satunya adalah program Ala Pensiun, yang menyasar kebutuhan persiapan masa tua sekaligus membangun relasi jangka panjang dengan pengguna layanan.

Selain itu, Bank Aladin memanfaatkan digitalisasi untuk memperluas jangkauan layanan tanpa bergantung pada jaringan kantor fisik. Pendekatan ini dinilai memungkinkan efisiensi operasional sekaligus memperluas skala layanan ke berbagai wilayah.

Ke depan, Bank Aladin menargetkan pertumbuhan dua digit pada 2026, dengan tetap bersikap waspada terhadap dinamika ekonomi global. Perseroan juga telah ditunjuk sebagai bank penerima setoran dana haji, yang menambah peran Bank Aladin dalam ekosistem keuangan syariah nasional.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research