Jakarta, CNBC Indonesia - Punya tubuh kurus ternyata belum tentu sehat. Dokter mengungkap ada kondisi bernama skinny fat atau normal weight obesity, yakni ketika berat badan terlihat normal tetapi kadar lemak tubuh tinggi dan massa otot rendah. Kondisi ini disebut bisa meningkatkan risiko penyakit serius.
Dokter spesialis gizi, dr. Putri Sakti Dwi Permanasari menjelaskan, banyak orang masih menganggap obesitas hanya berkaitan dengan bentuk tubuh. Padahal obesitas merupakan sebuah penyakit metabolik kronis yang juga bisa dialami orang dengan tubuh terlihat normal.
"Jadi benar-benar normal pun, kalau ototnya rendah, lemaknya tinggi, dia juga punya risiko penyakit yang ternyata secara penelitian dua kali lebih besar dibanding orang obesitas," ujar dr. Putri dalam acara Hari Obesitas Sedunia 2026 bertema "Obesity Disease Awareness Event: Harapan yang Meringankan", Kamis (7/5/2026).
dr. Putri mengatakan, pemeriksaan berat badan saja tidak cukup untuk mengetahui kondisi kesehatan seseorang. Selain indeks massa tubuh (BMI), komposisi tubuh seperti kadar lemak dan massa otot juga perlu diperhatikan.
Ia bilang, salah satu cara sederhana mengenali obesitas sentral adalah mengukur lingkar pinggang. Untuk perempuan, lingkar pinggang di atas 80 cm sudah masuk kategori obesitas sentral, sementara laki-laki di atas 90 cm. "Jadi ukuran jeans itu memang berperan," katanya.
Ia menambahkan obesitas dipengaruhi banyak faktor, mulai dari genetik, pola hidup, hormon, kualitas tidur, hingga stres. Jadi penanganannya tidak bisa hanya mengandalkan diet ekstrem atau olahraga sesaat. "Komitmen dan konsistensi itu adalah kunci," ujar dr. Putri.
Sementara itu, dr. Gia Pratama juga menyoroti bahaya lemak viseral atau lemak yang menumpuk di sekitar organ tubuh. Ia bilang, lemak jenis ini lebih berbahaya dibanding lemak di bawah kulit karena dapat mengganggu fungsi organ dalam.
"Lemak ini bisa melingkupi semua organ-organ tubuh di dalam. Perlemakan hati, perlemakan ginjal, itu terjadi karena visceral," ujar dr. Gia.
Ia menjelaskan lemak viseral dapat mengganggu fungsi hati, pankreas, ginjal, hingga jantung. Bahkan seseorang tetap bisa memiliki lemak viseral tinggi meski tubuhnya tampak tidak gemuk.
Dr. Gia juga mengingatkan obesitas menjadi salah satu faktor risiko berbagai penyakit mematikan seperti diabetes, stroke, dan serangan jantung. Ia menyebut usia rata-rata serangan jantung di Indonesia kini semakin muda dibanding satu dekade lalu.
"Di 2013 angka rata-rata kena serangan jantung itu di 50-an. Di 2023 angkanya lebih muda, hampir 10 tahun, 41 tahun," kata dr. Gia.
(hsy/hsy)
Addsource on Google












































