REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah Jerman menggelar penggerebekan di Berlin dan Frankfurt, Rabu (25/6), terkait penyelidikan dugaan sabotase terhadap pasokan gas negara itu. Kasus tersebut berkaitan dengan proses penjualan anak perusahaan raksasa energi Rusia, Gazprom Germania, tidak lama setelah Moskow melancarkan invasi besar-besaran ke Ukraina pada Februari 2022.
Kantor Kejaksaan Federal Jerman menyatakan polisi menggeledah rumah seorang warga negara Rusia yang menjadi tersangka di Berlin, serta sebuah lokasi usaha di Frankfurt. Hingga kini belum ada penangkapan dalam kasus tersebut.
Jaksa menyebut penyelidikan berfokus pada proses pelepasan Gazprom Germania dari induk usahanya, Gazprom Rusia, melalui penjualan saham tidak langsung pada akhir Maret 2022. Setelah itu, kepemilikan perusahaan beralih kepada sebuah perusahaan yang berbasis di Moskow yang sebelumnya tidak memiliki kaitan dengan industri energi.
Menurut penyelidik, pemilik baru kemudian memerintahkan likuidasi Gazprom Germania. Langkah itu dinilai sangat sensitif karena perusahaan tersebut saat itu menguasai sedikitnya seperempat kapasitas penyimpanan gas alam Jerman.
"Tersangka, seorang warga negara Rusia, diduga mendukung pelaksanaan keputusan likuidasi tersebut," kata Kejaksaan Federal Jerman dalam keterangannya, sebagaimana dilaporkan Euronews pada Kamis (25/6/2026).
Kasus ini kembali mengingatkan pada rapuhnya hubungan energi antara Jerman dan Rusia sejak perang Ukraina meletus. Selama puluhan tahun, Rusia menjadi pemasok utama gas alam bagi Jerman melalui jaringan pipa, termasuk Nord Stream, sehingga industri terbesar di Eropa itu menikmati pasokan energi murah dan stabil.
Namun, perang mengubah hubungan tersebut secara drastis. Berkurangnya pasokan gas Rusia memicu lonjakan harga energi di Eropa, memaksa Jerman mencari sumber pasokan baru dalam waktu singkat sekaligus mempercepat pembangunan terminal gas alam cair (LNG) untuk menerima impor dari negara lain.
Mantan Kanselir Jerman Olaf Scholz pada akhir 2022 menegaskan negaranya tidak akan lagi menggantungkan kebutuhan energi strategis kepada satu negara.
"Kami telah melihat dari Rusia apa artinya bergantung pada sumber daya yang sangat penting secara strategis. Kami tidak akan mengulangi kesalahan itu untuk kedua kalinya," kata Scholz saat menghadiri forum ekonomi yang diselenggarakan harian Süddeutsche Zeitung.
Uni Eropa juga telah menyepakati target menghentikan impor gas Rusia secara bertahap paling lambat akhir 2027 sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi kawasan.
"Kami melepaskan diri dari ketergantungan yang merugikan pada gas Rusia dan mengambil langkah besar menuju Uni Energi yang lebih mandiri," ujar Menteri Energi, Perdagangan, dan Industri Siprus Michael Damianos.

2 hours ago
1
















































