Jakarta, CNBC Indonesia - Masyarakat Indonesia, khususnya kelas pekerja, termasuk aparatur sipil negara (ASN) hampir mengakhir masa libur panjang yang disebabkan adanya cuti bersama plus libur nasional saat beriringannya Hari Raya Nyepi dan Hari Raya Idulfitri 2026. Sebelumnya, berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) menter agama, menteri ketenagakerjaan, dan menteri PANRB tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2026, setidaknya selama periode itu liburan terjadi selama tujuh hari beruntun, 18-24 Maret 2026.
Belum lagi adanya kebijakan penerapan WFA oleh pemerintah RI. Aturan itu berlaku pada 16-17 Maret 2026 ditambah 25-27 Maret 2026 sebelum libur akhir pekan 28-29 Maret 2026.
Panjangnya periode liburan itu kerap memicu penyakit psikologis jelang masuk kantor. Ini kerap dikenal dengan istilah Post Holiday Blues atau Sindrom Pasca Liburan.
"Usai periode liburan yang panjang, banyak yang merasa enggan untuk kembali ke pekerjaan. Fenomena ini dikenal dengan istilah 'post holiday blues', yaitu sindrom yang muncul setelah liburan, yang dapat disebabkan oleh sejumlah faktor mental dan fisik," dikutip dari artikel di website Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan, Selasa (24/3/2026).
Dalam artikel yang ditulis oleh Dini Yulia, SKM, MARS dari RSUP Prof. dr. I.G.N.G. Ngoerah, post holiday blues biasanya muncul dengan sejumlah gejala, seperti perasaan sedih, kelelahan, minimnya motivasi, dan kesulitan dalam kembali menyesuaikan diri dengan rutinitas sehari-hari setelah menikmati pengalaman yang menyenangkan selama liburan. Gejala itu muncul karena berbagai faktor, mulai dari perubahan lingkungan, keletihan fisik dan mental, hingga kekecewaan karena harus menghadapi rutinitas.
"Setelah menikmati waktu bersantai dan melupakan kesibukan sehari-hari, seseorang mungkin merasa cukup sulit untuk kembali kepada kewajiban yang lebih serius, sehingga muncullah perasaan post holiday blues," sebagaimana tertera dalam artikel.
Dalam artikel itu, disebutkan bahwa post holiday blues merupakan reaksi yang wajar. Bahkan, sejumlah tips yang bisa diambil untuk mencegahnya turut dibagikan Dini Yulia, sebagaimana berikut ini:
1. Kembali ke Rutinitas Secara Bertahap
Hindari memaksakan diri untuk langsung bekerja keras setelah masa liburan. Jika mungkin, sisihkan satu atau dua hari sebelum kembali untuk beradaptasi. Manfaatkan masa ini untuk beristirahat, menyusun jadwal, dan mempersiapkan mental.
2. Atur Pola Tidur dan Pola Makan
Selama masa liburan, seringkali pola tidur dan makan mengalami perubahan. Kembalilah pada kebiasaan sehat dengan tidur yang cukup dan menyantap makanan bergizi. Kurangi konsumsi makanan berat atau tidak sehat agar tubuh lebih segar dan bertenaga.
3. Bawa Energi Positif dari Liburan
Kenangan dari liburan tidak perlu berakhir bersamaan dengan berakhirnya perjalanan. Usahakan untuk tetap terhubung dengan nuansa liburan, seperti mendengarkan musik yang mengingatkanmu pada pengalaman tersebut, melihat foto liburan, atau menceritakan pengalaman seru kepada teman dan keluarga.
4. Buat Rencana Baru
Salah satu penyebab post holiday blues adalah perasaan bahwa kesenangan telah berakhir. Untuk mengatasi masalah ini, rencanakan hal-hal kecil yang menggembirakan, seperti berkumpul dengan teman di akhir pekan, melakukan olahraga secara rutin, atau bahkan merencanakan liburan berikutnya. Ini dapat memberikan motivasi untuk kembali menjalani aktivitas.
5. Fokus pada Hal-Hal yang Dapat Disyukuri
Gantilah perasaan sedih akibat berakhirnya liburan dengan menaruh perhatian pada hal-hal positif di sekitar. Latihlah diri untuk bersyukur atas pengalaman menyenangkan saat liburan dan kesempatan untuk kembali ke rutinitas yang menawarkan stabilitas dan peluang baru.
(sef/sef)
Addsource on Google













































