Anggota DPR: Tawaran Malaysia Atasi Karhutla Bisa Menambah Kekuatan

11 hours ago 3

Warga berkendara menembus kabut asap di kawasan Jakabaring, Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (5/9/2026). Berdasarkan citra satelit Himawari-9 yang dipantau BMKG pada 5 September 2026 pukul 10.00 WIB, sebaran asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan, Riau, Jambi, Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, dan Papua Selatan bergerak ke arah barat laut–utara, sedangkan di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Utara bergerak ke arah utara–timur laut.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Anggota Komisi VIII DPR RI Dini Rahmania mengatakan tawaran bantuan dari Malaysia untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bisa menjadi penambah kekuatan di tengah masih berlangsungnya penanganan karhutla di sejumlah wilayah.

Dia pun memahami upaya dari pemerintah Indonesia untuk mengatasi karhutla sudah dilakukan dengan beragam cara. Namun ketika ada dukungan tambahan dari negara sahabat, menurut dia, hal itu perlu dimanfaatkan untuk mempercepat penanganan.

"Yang penting prosedurnya jelas dan bantuannya benar-benar sesuai kebutuhan di lapangan," kata Dini, Jumat (11/9/2026).

Menurut dia, pemerintah saat ini telah mengerahkan berbagai langkah, mulai dari operasi pemadaman di darat, pemantauan titik api, pendinginan, pengerahan sarana-prasarana, hingga penguatan operasi penanganan di wilayah prioritas. BNPB, kata dia, juga terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan unsur terkait dalam menangani karhutla.

Namun, dia mengingatkan keberhasilan penanganan tidak boleh hanya diukur dari berapa banyak titik api yang dipadamkan. Perlindungan masyarakat, kata dia, harus menjadi ukuran utama.

Menurut dia, semua pihak harus memastikan warga yang terdampak asap mendapatkan perlindungan. Kelompok rentan, anak-anak, lansia, dan masyarakat yang berada di sekitar wilayah kebakaran harus menjadi perhatian.

sumber : Antara

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research