7 Ilmuwan Nuklir Iran Dibunuh Israel, Ini Daftarnya

18 hours ago 2

Amalia Zahira,  CNBC Indonesia

02 March 2026 11:55

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Israel melancarkan serangan ke Iran pada hari Sabtu (28/2/2026). Hal ini diumumkan langsung oleh pemerintah Israel bahwa mereka telah melakukan serangan pendahuluan pada Iran, Sabtu waktu setempat.

Konflik Iran, Amerika Serikat dan Israel sudah berlangsung puluhan tahun dan memakan banyak korban jiwa. Tak hanya petinggi militer yang tewas tetapi juga ilmuwan Iran.

Rangkaian insiden sejak 2010, ketika sejumlah ilmuwan nuklir Iran tewas dalam pembunuhan yang diduga dilakukan oleh Israel sebagai upaya menghambat program nuklir Teheran.

Berikut daftar ilmuwan nuklir Iran yang dibunuh Israel

1. Fereydoon Abbasi

Fereydoon Abbasi-Davani merupakan insinyur nuklir Iran sekaligus anggota Korps Garda Revolusi Islam yang pernah menjabat sebagai Kepala Organisasi Energi Atom Iran pada 2011-2013.

Ia dikenal sebagai tokoh konservatif dan juga sempat menjadi anggota parlemen Iran. Abbasi tewas dalam serangan udara yang dilancarkan Israel pada 13 Juni 2025. Sebelumnya, pada 2010, ia pernah selamat dari upaya pembunuhan yang juga dikaitkan dengan ketegangan terkait program nuklir Iran.

Abbasi berkontribusi langsung dengan pengembangan program nuklir Iran. Ia secara terbuka membela program tersebut sebagai upaya damai dan bagian dari kedaulatan nasional Iran.

Dalam sebuah wawancara pada 2012, Abbasi bahkan mengakui bahwa Iran pernah secara sengaja menyamarkan atau memanipulasi informasi tertentu kepada Badan Energi Atom Internasional dan intelijen Barat. Ia menyatakan bahwa Iran terkadang "menunjukkan kelemahan saat sebenarnya tidak lemah, dan menunjukkan kekuatan saat sebenarnya tidak kuat".

2. Saeed Borji

Saeed Borji merupakan fisikawan dan insinyur nuklir Iran yang terlibat dalam program nuklir negara tersebut. Ia meraih gelar doktor di bidang teknik mesin dari Malek-Ashtar University of Technology dan dikenal sebagai salah satu ilmuwan senior di lingkaran strategis pengembangan teknologi pertahanan Iran. Borji tewas dalam serangan udara Israel ke Iran pada Juni 2025.

Pada Maret 2019, Departemen Keuangan Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadap Borji atas dugaan perannya dalam pengembangan peralatan pertahanan bagi Republik Islam Iran.

Sejumlah laporan menyebut ia memiliki keahlian di bidang material peledak dan teknologi pertahanan, serta diduga terlibat dalam proyek riset senjata nuklir. Media Israel menyebut Borji berperan dalam desain detonator senjata nuklir, namun sumber-sumber Iran membantah klaim tersebut.

Selain aktivitasnya di sektor strategis, Borji juga dilaporkan aktif dalam dunia akademik dan transfer pengetahuan, serta pernah mendirikan perusahaan di sektor petrokimia sebelum akhirnya ikut masuk dalam daftar sanksi AS.

3. Ahmadreza Zolfaghari Daryani

Ahmadreza Zolfaghari Daryani merupakan profesor fisika nuklir Iran sekaligus Dekan Fakultas Ilmu Nuklir di Shahid Beheshti University. Ia dikenal memiliki spesialisasi dalam aplikasi teknik nuklir, dengan kontribusi riset di bidang fisika reaktor dan teknologi siklus bahan bakar.

Zolfaghari juga turut menulis sejumlah publikasi ilmiah, termasuk terkait model optimasi manajemen bahan bakar nuklir. Karyanya dinilai sejalan dengan program nuklir yang didukung negara. Sejumlah lembaga intelijen Barat menuding program tersebut memiliki potensi dimensi militer. Walau begitu, Teheran bersikeras bahwa program tersebut bertujuan untuk kebutuhan sipil.

Zolfaghari tewas dalam serangan udara Israel pada Juni 2025, dalam operasi yang disebut menargetkan personel senior infrastruktur nuklir Iran.

Militer Israel mengidentifikasinya sebagai pakar yang dinilai memiliki keahlian strategis, dan menyebut eliminasi tersebut sebagai bagian dari upaya mengganggu kapasitas yang dianggap terkait pengembangan persenjataan.

4. Abdolhamid Minouchehr

Abdolhamid Minouchehr merupakan fisikawan dan insinyur nuklir Iran yang menjabat sebagai Kepala Fakultas Teknik Nuklir di Shahid Beheshti University. Ia dikenal sebagai akademisi senior yang berperan dalam pengembangan pendidikan dan riset teknik nuklir di Iran, termasuk dalam penguatan kapasitas sumber daya manusia di sektor tersebut.

Minouchehr tewas dalam serangan Israel ke Iran pada Juni 2025. Laporan media Iran menyebut ia menjadi korban dalam serangan yang menghantam bangunan tempat tinggalnya.

Media yang berafiliasi dengan pemerintah Iran mengklaim bahwa serangan tersebut juga menewaskan anggota keluarganya, dan menggambarkannya sebagai upaya terarah terhadap tokoh-tokoh yang dianggap mendorong kemandirian nuklir Iran.

Sementara itu, Israel menyebut serangan tersebut merupakan bagian dari operasi besar untuk melemahkan kemampuan pengayaan uranium Iran dan mengatasi ancaman serius terhadap Israel, tanpa menjelaskan secara rinci siapa saja yang menjadi target.

5. Mohammad Mehdi Tehranchi

Mohammad Mehdi Tehranchi merupakan fisikawan teoretis dan ilmuwan nuklir Iran yang dikenal luas di dunia akademik. Ia adalah profesor di Institut Riset Laser dan Plasma serta Departemen Fisika Shahid Beheshti University.

Selain itu, ia juga menjabat sebagai anggota dewan pengawas sekaligus Presiden Islamic Azad University, dan pernah menjadi rektor di beberapa kampus universitas tersebut maupun di Shahid Beheshti University.

Tehranchi tewas dalam serangan Israel terhadap Iran pada 13 Juni 2025. Dalam karirnya, ia dikenal sebagai pakar di bidang fisika lanjut seperti rotasi Faraday, magnet molekuler, transisi fase, dan atom Rydberg.

Pada 2018, ia menyampaikan pidato kebijakan sains di hadapan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang menekankan pentingnya ilmu pengetahuan untuk memperkuat kedaulatan nasional dan menghadapi tekanan Barat.

Ia juga menulis sejumlah buku penting, termasuk Introduction to Magnetic Materials yang banyak digunakan sebagai referensi mahasiswa fisika dan teknik material di Iran, serta karya tentang arah dan masa depan pengembangan sains nasional Iran.

6. Seyyed Amir Hossein Faqhi

Seyyed Amir Hossein Faqhi merupakan insinyur nuklir dan akademisi Iran yang dikenal atas kontribusinya di bidang fisika dan teknik nuklir. Ia menjabat sebagai Deputi di Organisasi Energi Atom Iran serta menjadi dosen di Shahid Beheshti University.

Faqhi termasuk dalam jajaran ilmuwan yang terlibat dalam pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir di Iran dan proyek-proyek teknologi nuklir untuk tujuan damai, termasuk riset pemanfaatan teknologi nuklir dalam pengobatan kanker.

Faqhi tewas dalam serangan pembuka perang Iran-Israel pada 13 Juni 2025. Laporan menyebutkan rudal menghantam kediaman pribadinya pada pagi hari, bertepatan dengan hari libur mingguan di Iran, sehingga menyebabkan ia meninggal dunia. Dalam serangan yang sama, lima ilmuwan nuklir Iran lainnya juga dilaporkan tewas.

Upacara pemakamannya pada 28 Juni 2025 dijadwalkan berlangsung bersamaan dengan para komandan tinggi Iran yang turut menjadi korban dalam konflik tersebut.

7. Akbar Motlebizadeh

Akbar Motlebizadeh merupakan ilmuwan nuklir Iran dan memiliki keahlian di bidang teknik kimia. Ia merupakan dosen di Shahid Beheshti University, serta pengajar fisika di cabang Yazd Islamic Azad University.

Motlebizadeh tewas dalam serangan Israel ke Iran pada 13 Juni 2025, di awal perang Iran-Israel. Laporan menyebut ia dibunuh di Absard, Distrik Pusat Damavand, Provinsi Teheran, dan dimakamkan di Yazd pada 19 Juni 2025. Dalam insiden tersebut, istrinya juga dilaporkan turut menjadi korban.

Semasa muda, Motlebizadeh terlibat dalam Perang Iran-Irak (1980-1988) dan disebut pernah bertugas bersama Jenderal Qassem Soleimani.

Pada Maret 2019, Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi terhadapnya. Menurut otoritas AS, ia diduga terlibat dalam riset sistem persenjataan, bahan peledak, serta pengujian ledakan dan proyek beraplikasi militer di bawah Shahid Karimi Group.

Ia juga dilaporkan pernah menjadi penasihat Mohsen Fakhrizadeh, mantan kepala Organization of Defensive Innovation and Research Iran.

(mae/mae)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research