10 Produk Iran yang Banyak Diimpor Indonesia, Ada Reaktor Nuklir

17 hours ago 2

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

03 March 2026 13:30

Jakarta, CNBC Indonesia- Sepanjang Januari-Desember 2025, impor Indonesia dari Iran tercatat US$8,848 juta atau sekitar Rp 149 miliar (US$1-Rp 16.860). Nilai tersebut turun 20,01% secara tahunan (year on year/yoy).

Kontraksi ini terjadi sebelum situasi geopolitik memasuki fase paling panas pada akhir Februari 2026. Artinya, pelemahan arus dagang sudah lebih dulu terbentuk, bahkan sebelum konflik terbuka meledak.

Secara struktur, komoditas utama tetap terkonsentrasi pada buah dan buah bertempurung (HS 08) dengan nilai US$5,92 juta.

Nilai ini setara hampir dua pertiga total impor dari Iran. Di bawahnya terdapat besi dan baja (HS 72) sebesar US$0,77 juta, mesin dan peralatan mekanis (HS 84) US$0,70 juta, bahan kimia organik (HS 29) US$0,46 juta, serta bahan bakar mineral (HS 27) US$0,45 juta.

Lima kelompok ini praktis menjadi penopang utama perdagangan. Struktur impor Indonesia dari Iran masih bertumpu pada komoditas primer dan bahan antara industri berat.

Namun di sisi pertumbuhan, cerita berbeda muncul. Lonjakan tertinggi justru datang dari pos bernilai sangat kecil. Kain tekstil industri berlapis (HS 59) melonjak 6.931%, zat albumina dan perekat (HS 35) naik 6.003%, jam dan arloji (HS 91) tumbuh 2.800%, serta kakao olahan (HS 18) meningkat 1.721%. Kertas (HS 48) dan karet (HS 40) juga mencatat pertumbuhan di atas 1.300%.

Meski begitu, nilai absolutnya tetap tipis. HS 59 hanya US$0,000211 juta, HS 35 US$0,000732 juta, dan HS 91 US$0,000116 juta. Bahkan karet yang tumbuh signifikan hanya US$0,037 juta. Lonjakan ini lebih merefleksikan pembukaan transaksi kecil atau kebutuhan proyek tertentu, bukan pergeseran arus dagang utama.

Menariknya, kain tenunan khusus (HS 58) mulai masuk jajaran 10 besar berdasarkan nilai, mencapai US$0,107 juta. Plastik (HS 39), lak dan damar nabati (HS 13), serta instrumen optik dan medis (HS 90) juga muncul dalam daftar nilai terbesar, meski porsinya masih terbatas.

Secara keseluruhan, kontraksi 20% menunjukkan bahwa pelemahan lebih banyak terjadi pada komoditas bernilai besar. Jika buah atau mesin mengalami koreksi, dampaknya langsung terasa terhadap total impor. Dengan struktur yang sangat terkonsentrasi, sedikit perubahan pada HS utama langsung menggerakkan agregat.

Iran Memasuki Fase Konflik Terbuka

Situasi semakin kompleks setelah 28 Februari 2026, ketika Presiden Donald Trump mengumumkan operasi militer besar terhadap Iran bersama Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Serangan menyasar fasilitas nuklir, infrastruktur militer, serta pucuk pimpinan Iran.

Media Iran melaporkan ledakan di Teheran dan sejumlah fasilitas strategis. Serangan balasan pun terjadi. Iran menembakkan sekitar 170 rudal balistik dan drone ke wilayah Israel serta pangkalan yang terkait dengan pasukan AS di kawasan Teluk.

Yang paling mengguncang adalah laporan kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam serangan di Teheran. Jika terkonfirmasi permanen dalam struktur politik Iran, ini menjadi krisis kepemimpinan terbesar sejak Revolusi 1979.

Di sisi domestik, Iran sebelumnya sudah diguncang gelombang demonstrasi sejak Januari 2026 di tengah tekanan ekonomi dan pelemahan mata uang. Konflik eksternal kini berpotensi memperdalam ketidakpastian internal.

Dalam jangka pendek, volume impor Indonesia dari Iran relatif kecil dibanding total impor nasional. Dengan nilai di bawah US$9 juta per tahun, risiko langsung terhadap neraca dagang Indonesia terbatas.

Namun ada dua titik yang patut dicermati.

Pertama, gangguan di Selat Hormuz. Jika Iran benar-benar membatasi lalu lintas pelayaran, dampaknya bukan pada impor langsung dari Iran, melainkan pada harga energi global. Kedua, volatilitas geopolitik dapat mengganggu rantai pasok komoditas primer seperti buah kering dan bahan kimia tertentu.

Struktur perdagangan Indonesia-Iran menunjukkan ketergantungan tinggi pada satu komoditas utama. Dalam kondisi normal, pola ini stabil. Dalam situasi konflik terbuka, konsentrasi semacam ini justru menjadi titik rawan.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research