Jakarta, CNBC Indonesia - Kemunculan Siklon Tropis Senyar di Selat Malaka menjadi alarm baru bagi Indonesia dan Asia.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, sebuah siklon tropis terbentuk sangat dekat dengan daratan Indonesia dan memicu hujan ekstrem, banjir bandang, serta longsor di Aceh dan Sumatra Utara.
Siklon Senyar bermula dari Bibit Siklon 95B yang berkembang cepat di perairan hangat Selat Malaka. Dalam waktu singkat, sistem tekanan rendah tersebut berubah menjadi siklon tropis dengan tekanan minimum 998 hPa dan kecepatan angin mencapai 80 km/jam cukup kuat untuk menimbulkan dampak hidrometeorologis besar ketika posisinya berada sangat dekat dengan daratan.
BMKG menegaskan bahwa lokasi pembentukan Senyar tergolong tidak lazim. Wilayah dekat garis ekuator umumnya tidak memiliki gaya Coriolis yang cukup untuk memutar sistem hingga menjadi siklon tropis. Namun suhu laut yang semakin hangat akibat perubahan iklim menjadikan wilayah yang dulunya dianggap aman kini semakin rentan menjadi tempat kelahiran badai.
Dalam lima tahun terakhir, Indonesia telah beberapa kali terdampak sistem serupa, mulai dari Siklon Cempaka, Dahlia, Seroja, hingga kini Senyar. Rangkaian ini menjadi bukti bahwa dinamika badai tropis di sekitar Indonesia mulai bergeser seiring perubahan iklim global.
Asia Hidup di Jalur Maut Topan Tropis
Fenomena Senyar terjadi di tengah meningkatnya aktivitas siklon di Asia Timur dan Asia Tenggara yang memang berada di jalur badai tropis dunia. Suhu laut hangat, perubahan pola angin musiman, dan tekanan atmosfer yang fluktuatif menjadikan wilayah ini pusat terbentuknya puluhan badai setiap tahun.
Setiap musim, negara seperti Filipina, Jepang, Tiongkok, Taiwan, dan Vietnam berada dalam risiko tinggi dihantam topan besar. Sebagian besar wilayah tersebut berada pada lintasan utama yang dikenal sebagai Typhoon Belt, jalur badai dari Samudra Pasifik barat yang melintasi Filipina, Taiwan, Jepang bagian selatan, pesisir Tiongkok, Vietnam, hingga Laut Cina Selatan.
Musim topan berlangsung dari Mei hingga Oktober dengan puncaknya pada Agustus-September, saat rangkaian badai datang hampir tanpa jeda dan membawa kerusakan besar.
Topan-Topan Paling Menghancurkan dalam Sejarah Asia
Sejarah Asia mencatat banyak badai besar, namun salah satu yang paling mematikan adalah Topan Nargis yang menghantam Myanmar pada 2 Mei 2008. Dengan kecepatan angin 240 km/jam, Nargis menewaskan hampir 140.000 orang dan berdampak pada lebih dari 2,4 juta penduduk. Gelombang badai setinggi 3,5 meter menyapu kota-kota pesisir seperti Bogalay dan menimbulkan kerusakan dalam skala luar biasa.
Nargis menjadi topan paling mematikan di Asia sejak badai Bangladesh 1991 dan bencana alam terbesar setelah tsunami 2004. Badai itu juga menghancurkan mata pencaharian warga-sekitar 200.000 hewan ternak musnah, termasuk puluhan ribu hewan pekerja yang menjadi tumpuan pertanian lokal.
Selain Nargis, sejumlah topan lain juga tercatat sebagai bencana paling dahsyat dalam sejarah modern Asia, dengan kerugian ekonomi mencapai miliaran dolar dan dampak kemanusiaan yang sangat besar.
Berikut daftar 14 topan paling merusak dan mematikan yang pernah menghantam Asia
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
















































