Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar aset kripto tengah mengalami koreksi signifikan. Bitcoin (BTC), yang sempat menyentuh level tertingginya di kisaran US$ 126.000, kini mengalami tekanan jual (sell-off) hingga ke area US$ 80.000 - US$ 90.000. Namun, bagi para investor cerdas (smart money), koreksi ini bukanlah sinyal kepanikan, melainkan peluang akumulasi "diskon" untuk aset-aset yang memiliki narasi fundamental kuat di tahun 2026.
Tidak dengan sekali membeli namun menggunakan skema dollar cost averaging yang proporsional dalam jendela timeframe tertentu pada momentum bearish ini menjadikan aset-aset ini mampu terdiskon dari harga fair valuenya.
Tim Riset CNBC Indonesia telah membedah lima aset kripto yang menjadi sorotan pasar saat ini yaitu Uniswap (UNI), Ondo Finance (ONDO), Bittensor (TAO), Hyperliquid (HYPE), dan Zcash (ZEC). Berikut adalah analisis mendalam mengenai prospek, katalis, dan risiko masing-masing aset tersebut.
Uniswap (UNI): Raksasa DeFi yang Siap Bagi Dividen?
Uniswap selama ini dikenal sebagai "Raja" bursa terdesentralisasi (DEX), namun sering dikritik karena token UNI hanya berfungsi sebagai alat voting (governance) tanpa memberikan keuntungan finansial langsung bagi pemegangnya.
Narasi ini berubah total di penghujung 2025. Proposal "Fee Switch" atau aktivasi pembagian biaya transaksi kini mendapatkan momentum kuat melalui preliminary vote. Jika disahkan, sebagian pendapatan protokol Uniswap-yang mencatatkan volume miliaran dolar per hari-akan digunakan untuk membeli kembali (buyback) dan membakar (burn) token UNI.
Ini mengubah status UNI dari aset spekulatif menjadi aset produktif yang menghasilkan arus kas (cash flow), mirip dengan emiten saham yang membagikan dividen. Di harga diskon saat ini, UNI memiliki valuasi yang sangat menarik secara fundamental.
Ondo Finance (ONDO): Jembatan 'Aman' Institusi Wall Street
Di tengah ketidakpastian pasar, narasi Real World Assets (RWA) menjadi tempat perlindungan (safe haven). ONDO memimpin sektor ini dengan membawa surat utang pemerintah AS (US Treasury) ke dalam blockchain.
Kemitraan strategis dengan institusi besar dan integrasi dompet Web3 (seperti Binance Wallet) memperluas akses ritel terhadap produk ONDO.
ONDO menawarkan stabilitas. Meskipun tidak menawarkan kenaikan eksplosif layaknya memecoin, ONDO adalah pilihan konservatif terbaik untuk lindung nilai (hedging). Selama minat institusi seperti BlackRock terhadap tokenisasi aset terus tumbuh, ONDO berada di posisi terdepan.
Foto: AP/Julia Nikhinson
CEO of BlackRock Larry Fink speaks at the Clinton Global Initiative, Monday, Sept. 19, 2022, in New York. (AP Photo/Julia Nikhinson)
Bittensor (TAO): Pertaruhan Besar pada Desentralisasi AI
Sektor Artificial Intelligence (AI) diprediksi masih akan mendominasi tren teknologi hingga 2030. Bittensor (TAO) hadir dengan proposisi unik: menciptakan pasar terdesentralisasi untuk kecerdasan mesin, mencegah monopoli data oleh raksasa teknologi.
TAO menghadapi dua katalis besar di 2025-2026:
-
Halving: Sama seperti Bitcoin, suplai TAO yang masuk ke pasar akan berkurang separuh pada Desember 2025, menciptakan efek kelangkaan (supply shock).
-
AI Narrative: Koreksi harga TAO saat ini memberikan entry point menarik sebelum gelombang hype AI berikutnya dimulai. Namun, volatilitas aset ini tergolong tinggi (High Risk, High Reward).
Hyperliquid (HYPE): 'Kuda Hitam' Penantang Pasar Derivatif
Sebagai pendatang baru, Hyperliquid langsung menggebrak pasar dengan volume transaksi derivatif yang masif, mengalahkan pemain lama. Keunggulannya terletak pada User Experience (UX) yang mulus layaknya bursa terpusat (CEX), namun dengan keamanan self-custody.
HYPE adalah murni permainan momentum. Likuiditas dan atensi pasar sedang mengalir deras ke protokol ini. Bagi trader jangka pendek, volatilitas pasca-listing HYPE menawarkan peluang keuntungan (capital gain) yang cepat, meskipun risikonya juga sebanding mengingat masih mencari price discovery.
Zcash (ZEC): Antara Privasi Masa Depan dan Spekulasi Pasar
Zcash kembali menjadi perbincangan hangat, sebagian karena isu teknis mengenai ketahanan terhadap komputer kuantum (Quantum Resistance) dan sebagian lagi karena rumor investasi korporasi besar.
Namun, investor perlu berhati-hati memilah fakta. Isu investasi oleh "Reliance" yang beredar baru-baru ini merujuk pada perusahaan asuransi kecil (small cap), bukan konglomerat India Reliance Industries.
Selain itu, meskipun ZEC sedang melakukan transisi teknologi privasi yang penting, ancaman delisting dari bursa utama (CEX) akibat regulasi anti-pencucian uang masih menghantui.
Berbeda dengan empat aset sebelumnya, kenaikan ZEC saat ini dinilai lebih didorong oleh sentimen spekulatif yang rapuh. Secara fundamental teknologi privasi, ZEC memang unggul, namun risiko regulasi dan misinformasi pasar membuatnya masuk dalam kategori "Wait and See".
Foto: quantum computer
Apa Strategi Terbaik?
Bagi investor yang mencari pertumbuhan fundamental jangka panjang, Uniswap (UNI) dan Ondo Finance (ONDO) menawarkan profil risiko yang paling terukur dengan peta jalan bisnis yang jelas.
Sementara bagi investor agresif yang mengejar alpha (keuntungan di atas rata-rata pasar), Hyperliquid (HYPE) dan Bittensor (TAO) dapat menjadi pilihan, dengan catatan manajemen risiko yang ketat.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)
















































