IHSG Pesta Pora, Rupiah Masih Loyo: Bangkitnya Kapan?

4 days ago 9
  • Pasar keuagan Indonesia berakhir beragam, bursa saham terbang sementara rupiah melemah
  • Wall Street berakhir di zona hijau ditopang saham teknologi
  • Data ekonomi AS dan optimisme pemangkasan suku bunga The Fed akan menjadi penggerak pasar hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar saham berpesta pora usai berhasilnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat dan menyentuh level psikologis baru 8.500, bahkan hanya butuh 30 poin lagi untuk menyentuh level 8.600. Sayangnya euforia di pasar saham tak sejalan dengan pergerakan rupiah terhadap dolar AS yang justru stagnan.

Rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) Indonesia yang mulai efektif pada Selasa (25/11/2025), mendorong kenaikan IHSG.

Beberapa sentimen positif pun mulai tanda-tanda merger antara GoTo dengan Grab juga mendorong euforia pasar saham. Selengkapnya mengenai sentimen dan proyeksi pasar hari ini dapat dibaca pada halaman 3 pada artikel ini. Investor juga dapat mengintip agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini baik dalam negeri dan luar negeri pada halaman 4.

Pada perdagangan Senin (24/11/2025), IHSG ditutup melesat 1,85% di level 8.570,25. Penutupan ini menjadi kenaikan tertinggi sepanjang masa alias All Time High (ATH) dan mengantar IHSG ke evel psikologis baru 8.500.


a

Sebanyak 343 saham naik, 297 turun, dan 172 tidak bergerak. Nilai transaksi hari ini sangat ramai atau mencapai 42,15 triliun, melibatkan 49,89 miliar saham dalam 2,55 juta kali transaksi.

Sejak pagi IHSG berada di zona hijau. Indeks dibuka naik 0,52% dan menutup sesi 1 dengan kenaikan 0,84%, sebelum akhirnya ditutup 1,85% pada sesi 2.

Ramainya transaksi saham hari dikarenakan adanya rebalancing Indeks MSCI Indonesia pada penutupan perdagangan bursa.

MSCI mengimplementasikan perubahan evaluasi indeks saham Global Standard, Small Cap, dan Micro Cap pada penutupan bursa Senin (24/11/2025), dengan rincian sebagai berikut:

• MSCI Indonesia Global Standard: BRMS dan BREN Masuk; KLBF dan ICBP keluar
• MSCI Indonesia Small Cap: DSNG, ENRG, MSIN, RAJA, WIFI dan KLBF masuk; BRMS, SMSM dan ULTJ keluar

Tercatat total transaksi di Barito Renewables Energy (BREN) mencapai Rp 7,01 triliun, Bumi Resources Minerals (BRMS) Rp 4,82 triliun dan Kalbe Farma (KLBF) Rp 2,32 triliun.

Nyaris semua sektor perdagangan bergerak di zona hijau hari ini, dengan penguatan tertinggi dicatatkan oleh sektor properti, utilitas dan energi. Sementara itu hanya sektor kesehatan yang tercatat mengalami koreksi.

Emiten blue chip dengan kapitalisasi pasar raksasa tercatat menjadi penggerak utama kenaikan IHSG secara signifikan.

Saham Telkom Indonesia (TLKM) melesat 5,71% ke Rp 3.700 per saham, menyumbang kenaikan indeks hingga 22 poin. Lalu disusul oleh DSSA dan AMMN dengan kontribusi masing-masing 21 dan 20 indeks poin.

Kemudian ada Bank Mandiri (BMRI) yang hari ini melesat 3,03% ke Rp 5.100 per saham dengan kenaikan 12,48 indeks poin.

Barito Renewables energy (BREN) dan Bumi Resources Minerals (BRMS) yang baru ke MSCI Indonesia Global Standard juga ikut menjadi penopang kinerja IHSG.

Adapun saham GoTo Gojek Tokopedia (GOTO) yang sempat melaju kencang pada sesi satu ditutup naik terbatas atau naik 1,565 ke Rp 65 per saham.

Saham GOTO pada perdagangan intraday sempat naik 6,25% ke level 68, seiring dengan pengumuman perusahaan mengenai rencana pergantian Patrick Walujo sebagai Chief Executive Officer (CEO). Patrick yang telah mengisi kursi CEO GOTO sejak Juni 2023 akan digantikan oleh Hans Patuwo.

Kabar pergantian kursi bos GOTO tersebut muncul seiring dengan kabar merger perusahaan dengan Grab. Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengonfirmasi bahwa ada pembicaraan soal rencana penggabungan antara Grab dan GoTo di tengah pembahasan penyempurnaan Peraturan Presiden (Perpres) tentang ojek online (ojol).

Beralih ke rupiah, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Senin (24/11/2025) tidak berubah alias stagnan di posisi Rp16.690/US$1. Pada perdagangan intraday, rupiah sempat menyentuh level Rp16.715/US$1 sebelum akhirnya kembali ke posisi awal penutupan pada perdagangan akhir pekan lalu.

Sentimen eksternal masih menjadi katalis yang mempengaruhi pergerakan rupiah pada perdagangan pertama pekan ini. Dolar AS menguat setelah investor terus mencermati arah kebijakan moneter Bank Sentral AS (The Fed). Indeks dolar AS mempertahankan posisi mendekati level tertingginya dalam enam bulan, seiring proyeksi pemangkasan suku bunga The Fed yang masih berfluktuasi.

Pernyataan Presiden The Fed New York, John Williams, menjadi salah satu pemicu pergerakan pasar.

Williams menyebut bahwa pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat masih mungkin dilakukan, terutama karena pelemahan pasar tenaga kerja kini dinilai menjadi risiko yang lebih besar ketimbang inflasi yang masih berada di atas target.

Hal ini mendorong ekspektasi pelaku pasar, di mana probabilitas penurunan suku bunga 25 basis poin pada Desember naik menjadi sekitar 69%, melonjak dari 44% pada pekan sebelumnya.

Namun, pandangan internal The Fed masih terbelah. Presiden The Fed Boston, Susan Collins, menegaskan bahwa ia belum mengambil keputusan terkait langkah pemotongan suku bunga pada pertemuan mendatang. Ketidakselarasan komentar pejabat The Fed membuat volatilitas dolar tetap tinggi.

Penguatan indeks dolar AS menunjukkan bahwa pelaku pasar kembali memburu aset berdenominasi dolar, sehingga membuat tekanan terhadap pergerakan mata uang emerging markets, termasuk rupiah.

Adapun dari pasar obligasi Indonesia, pada perdagangan Senin (24/11/2025) imbal hasil obligasi tenor 10 tahun melemah tipis ke 6,0967%.

Sebagai informasi, imbal hasil obligasi yang menguat menandakan bahwa para pelaku pasar sedang membuang surat berharga negara (SBN). Begitu pun sebaliknya, imbal hasil obligasi yang melemah menandakan bahwa para pelaku pasar sedang kembali mengumpulkan surat berharga negara (SBN).

Pages

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research